Friday, November 10, 2017

Melirik Hamtebiu Menjadi Wisata Sejarah

Malam di Hamtebiu


Di balik keindahan Hamtebiu yang dua tahun ini tengah dibangun oleh Pemerintah Daerah Lampung Barat, ternyata ada cerita 'seram' yang menyelimutinya. Hamtebiu yang saya tahu adalah taman/kolam yang ada di Pasar Liwa Kecamatan Balikbukit tepatnya berada di bawah puncak Liwa—komplek rumah dinas Bupati Lampung Barat.

Sekilas melintas, tak ada yang aneh dengan penampilan kolam Hamtebiu. Malah terkesan Hamtebiu akan disulap menjadi tempat nongkrong yang asik untuk warga Lampung Barat, khususnya yang dekat dengan kawasan tersebut, juga untuk para turis baik lokal maupun domestik.  
Hampir sepekan berada di di Lampung Barat (29 Oktober 2017-2 November 2017), saya sempat berkeliling ke beberapa tempat wisata di sana, salah satunya tentu nongkrong di Hamtebiu. Malam itu, suasana Hamtebiu ramai, asyik, dingin tentu saja, banyak juga anak-anak muda yang nongkong untuk sekadar ngobrol dan bercengkerama. Ada pula pekerja yang sedang lembur mengerjakan pembangunan di sekitaran Taman Hamtebiu. Di pojok sebelah barat−dilihat dari jalan utama, kita bisa melihat patung Sekura yang baru selesai dikerjakan. Patung ini dibuat sebagai monumen yang mewakili budaya Sekura di Lampung Barat. Gelaran Sekura sendiri merupakan perhelatan budaya sebagai ajang silaturahmi masyarakat Sekala Brak yang dilaksanakan pada 1 sampai dengan 6 syawal setiap tahun. Sayang sekali, malam hari bukan waktu yang tepat untuk foto bareng patung Sekura.

Malam di Hamtebiu


Menurut cerita Asep yang mengikuti acara Sekura pada tahun 2107. Dia hadir di hari ke enam pelaksanaan Sekura yaitu di Pekon Canggu, Kecamatan Batubrak. Muda mudi tumpah ruah meraimaikan acara tersebut. “Dalam acara Sekura ini, warga Lampung Barat bersatu, saling mendukung, saling mengenal, juga disatukan oleh seragam khas yang dikenakan dalam acara tersebuit,” terang Asep.  
Konon kolam Taman Hamtebiu tak pernah kering walaupun diameternya saya perkirakan tak lebih dari 30 meter. Ikan-ikan di kolam Hamtebiu hukumnya "haram" untuk diambil, dipancing atau dijala. Oleh karenanya, ikan-ikan di kolam Hamtebiu besar-besar dan gemuk.
"Ini banyak ikan apa tak pernah dipancing kak?" tanya saya kepada Kak Junet.
"Nggak ada yang berani ambil ikan-ikan di Hamtebiu."
"Kenapa kak?"
"Entahlah, mungkin warga takut atau karena tidak boleh diambil ikannya. Dulu disini ditanam berapa ribu ikan oleh pemerintah dan sampai sekarang tidak pernah diambil," terang Junet.
Menurut cerita Pak Dul Mukmin, salah satu warga Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, Hamtebiu adalah kolam pemandian jenazah massal saat terjadinya gempa Liwa tahun 1994. Banyak korban meninggal pada saat gempa Liwa terjadi, rumah-rumah warga banyak yang roboh, warga panik, tentu kerusakan ada di sana sini. Asep Iman Suwargana saat itu masih ada dalam kandungan Bu Junaeti−istri Pak Dul Mukmin. 

Foto di Makam Pahlawan Liwa Lampung Barat


Setelah gempa reda, banyak korban berjatuhan diangka ratusan. Ada korban yang memiliki sanak keluarga di Liwa dan banyak perantau yang tidak dikenal siapa kerabat dekatnya. Orang-orang yang tidak punya saudara inilah yang kemudian dimandikan bersama di Hamtebiu, dikafani, di salati (yang beragama Islam), dan dimakamkan di makam pahlawan yang berada di atas bukit, jaraknya sekitar 50 meter dari kolam Hamtebiu. 
Junet—kakak Asep—yang saat itu baru berumur lima tahun, waktu gempa terjadi dia sedang asyik menonton televisi di rumah Giono. Junet bercerita bahwa getaran gempa Liwa tahun 1994 itu cukup membuat rumah dan isinya  porak poranda. Giono sang pemilik rumah malah sempat tertimpa lemari kayu. "Sempat tertimpa lemari kayu, tapi dia selamat. Tak ada luka yang diderita Pak Giono," terang Junet.
Trauma gempa masih membayang orang-orang yang pernah merasakan 'sensasi' gempa Liwa tahun 1994. Beberapa kali pernah terjadi getaran kecil yang menggoyang Pekon Hanakau dan Lampung Barat, warga tak panik, mereka sigap keluar rumah untuk menyelamatkan diri dan keluarga. "Warga sini langsung keluar saat ada gempa kecil beberapa kali. Pernah beberapa kali terjadi lagi setelah tahun 1994," ujar Dul Mukmin.
Saya fikir warga di Lampung Barat sudah terbiasa dengan ancaman gempa yang sewaktu-waktu terjadi. Mereka menjadikan pengalaman adalah guru terbaik. Hamtebiu dan makan pahlawan menjadi salah satu saksi sejarah  yang bisa dijadikan tujuan wisata sejarah di Lampung Barat. Lalu apakah Hamtebiu bisa dijadikan sebagai wisata sejarah gempa Liwa tahun 1994? Jelas jawabannya bisa.
Sebagaimana layaknya sebuah museum, pemerintah kabupaten Lampung Barat harus mempersiapkan infrastruktur Hamtebiu sebagai sebuah museum. Pertama, pemerintah daerah harus mempersiapkan tempat yang representatif, nyaman, dan komunikatif. Hamtebiu yang masih dalam proses renovasi harus dipersiapkan secara maksimal dengan menyediakan gedung khusus sebagai tempat penempatan foto-foto gempa Liwa 1994, dokumen dan segala yang terkait dengan goncangan dasyat tersebut.  .
Foto-foto bisa dikumpulkan dengan melibatkan banyak pihak dari jurnalis, kolektor foto dan siapa saja yang memilki foto gempa Liwa. Bisa saja acara pengumpulan foto (dukumentasi) dibuat dengan format acara khusus seperti acara amal, doa bersama, sayembara atau dengan format acara lain. Foto yang dikumpulkan bisa saja foto Lampung Barat zaman old sebelum terjadi gempa, foto pasca terjadinya gempa, atau foto kekinian sehingga masyarakat atau turis bisa melihat bagaimana dasyatnya gempa waktu itu. Biarkan saja foto yang bercerita tentang kondisi Liwa saat itu, begitu kira-kira.
Selain foto, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bisa menggandeng sineas lokal untuk membuat film dokumenter gempa Liwa 1994. Film ini jelas bercerita tentang mereka yang terkena dampak gempa, tentang mereka yang ditinggal mati saudara yang meninggal, tentang kehidupan setelah terjadinya gempa 1994. Saya kira Lampung Barat memilki segudang anak muda kreatif yang mempunyai kemampuan membuat film. Tentu dengan adanya proyek pembauatan film dokumenter, pemerintah daerah juga memberikan ruang berekspresi bagi perkembangan ekonomi kreatif (film), juga untuk mengangkat talen lokal agar karya-karyanya diketahui dan dinikmati publik secara luas.
Keberadaan tour guide juga tak bisa dianggap sepele. Tujuannya untuk memberikan informasi kepada turis yang datang. Pemilihan guide tentu dengan seleksi ketat, dibutuhkan orang yang benar-benar paham dengan sejarah Liwa tahun 1994 dan berbagai fakta tentang gempa Liwa Selain itu, jelas tour guide harus orang lokal yang paham betul tentang Lampung Barat. Tour guide yang bersahabat, komunikatif, berwawasan luas, paham seluk beluk gempa Liwa tentu akan menjadi atensi para turis untuk datang.
Lebih keren lagi, di Hamtebiu dan Makam pahlawan disediakan papan informasi yang telah dilengkapi dengan sentuhan teknologi. Papan informasi yang menyediakan cerita tentang gempa Liwa 1994, ditampilkan dalam bentuk gambar atau tulisan−atau keduanya. Dengan sentuhan teknologi yang ada harapan Hamtebiu sebagai wisata sejarah tentu bukan sekadar mimpi.
Dengan bonus kondisi alam Lampung Barat yang memilki banyak potensi wisata dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Lampung. Pemerintah juga bisa menyediakan peta wisata Lampung Barat di papan informasi digital tersebut. Dengan menyediakan peta informasi, duide yang mumpuni tentu pariwisata di Lampung Barat bisa berkembang pesat.
Saat ini saya melihat banyak akun instagram yang mulai fokus mempromosikan wisata Lampung Barat. Sebut saja @akunrino, @sekalabrak_treasureoflampung, @pekonhanakau, @lambargeh, @pariwisata_lampungbarat, @lambankopi dan banyak lagi akun lain. Bayangkan jika mereka berkolaborasi maka akan ada percepatan gerakan pariwisata di Lampung Barat.
Selain keindahan alam, Gunung Pesagi, Danau Suoh, Danau Ranau, Gunung Seminung, Lampung Barat surga sayuran, kopi Liwa yang sudah mendunia, dan dinginnya Lampung Barat yang buat nyaman berjalan-jalan kapan saja. Hamtebiu dan makam pahlawan bisa dijadikan sebagai pusat monumen (bisa museum) sisa gempa Liwa 1994. Yang jelas, pemerintah membangun wisatanya, warga menjaga kebersihan dan keindahannya dan pengunjung menikmati dan tidak merusak alamnya. Kolaborasi adalah kuncinya.
"Hamtebiu wisata sejarah Gempa Liwa 1994" ini mungkin bisa menjadi jargonnya.
Tabik!
Penulis: Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Thursday, November 9, 2017

Makan Gaplek, Keren?


Saya yang sedari lahir, menghabiskan masa kecil bahagia, sampai sekarang menjelma menjadi pemuda unyu-unyu, tumbuh dan perkembang di Kabupaten Lampung Tengah yang konon ceritanya menjadi kabupaten penghasil dan pemilik lahan singkong terbesar di Provinsi Lampung, bahkan di Indonesia.
Biar sedikit ilmiah, saya akan mengutip data persingkongan di Lampung yang saya kutip dari laman data.go.id. Konon pada tahun 2013 luas lahan singkong di Lampung 318.107 hektar, pada tahun 2014 seluas 304.468 hektar, sedangkan pada tahun 2015 lahan singkong seluas 279.226 hektar. Sedangkan jika dihitung berdasarkan tonase, Provinsi Lampung juga unggul yaitu pada tahun 2013 menghasilkan 8.329.201 ton, tahun 2014 sebanyak 8.034.016 ton, dan ditahun pada 2015 sebanyak 7.384.099. Walaupun terjadi naik-turun cantik luas lahan dan tonase singkong antara tahun 2013 sampai 2015, Provinsi Lampung masih menempati urutan teratas penghasil singkong terbesar di Indonesia. Bangga nggak, sampean?
Saya akan mengenang masa indah (bukan masa-masa di sekolah) sewaktu saya dulu pernah menikmati singkong sebagai makanan alternatif yang membahagiakan bagi penduduk di kampung. Dulu, saya masih ingat betul bagaimana singkong itu bisa disulap menjadi bermacam varian makanan yang enak-enak.
Sebut saja getuk, singkong rebus, lemet, singkong goreng, dan kolak. Ini adalah oalahan makanan yang berbahan dasar singkong makan (baca: bukan singkong racun) yang bisa mengenyangkan perut dan menyenangkan hati. Singkong racun pun tak menakutkan seperti namanyaracun, ketika sudah diolah menjadi aci maka singkong ini bisa diolah menjadi makanan yang rasanya tak kalah enak dengan singkong makan. Jenang, kerupuk singkong, bahkan bisa dibuat lem saat kepepet butuh perekat. Yang jelas aci ini tidak bisa digunakan untuk merekatkan hati-hati yang patah karena menikahnya Riasa atau ijab-kabulnya duo Song; Song Jong Ki dan Song Hye Kyoartis korea jaman now.
Tidak cuma itu, sampean semua pasti tahu tiwul, ada yang menyebutnya nasi tiwul. Sayang di sayang, makanan yang melegenda ini sekarang sangat sulit ditemukan keberadaannya, bahkan di desa sekalipun. Emak-emak jaman now mungkin sudah enggan untuk memproduksinya.  Atau bisa jadi karena orang Indonesia menganggap bahwa makan selain nasi itu tidak keren, nggak warek. Tiwul dianggap makanan orang kampung, makan jagung merasa tidak kenyang, atau bisa jadi seperti saudara kita di Papua yang makanan pokoknya sagu tapi dipaksa menanam padi, menebang hutan berhektar-hektar untuk menanam padi. Weladalah, padahal kentang, jagung, singkong, sagu, dan sumber karbohidrat lain itu banyak di Indonesia.

Seperti halnya pramuka Indonesia yang memilki logo tunas kelapa yang secara filosofis memiliki arti bahwa semua bagian pohon kelapa bisa dimanfaatkan. Mungkin kita juga bisa membuat gerakan kepanduan tandingan yang menggunakan logo pohon singkong.  Loh, bukankah semua bagian pohon singkong juga bermanfaat?
Daun singkong bisa diolah menjadi sayur santan yang mantab-surantab, bisa juga dimanfaatkan sebagai kulupan pecel, kulupan saat makan sayur ikan lele, ikan gabus atau ikan asin yang sangat pedas. Tentu dengan suguhan nasi tiwul yang masih anget-anget akan terasa lebih sedap. Daun singkong bisa juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, kalau ini masih banyak dipraktikkan di desa saya. Daun singkong adalah makanan favorit sapi dan kambing. Petani pun gampang untuk mendapatkannya pada saat ladang-ladang sedang panen singkong.
Ketika daun singkong sudah dimakan ternak, diproses dipencernaan sapi atau kambing, daun singkong ini akan keluar menjadi kotoran yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang menyehatkan untuk tanaman, juga untuk tanaman singkong tentunya.  
Belum lagi  bonggol (baca: batang) singkong yang bisa dimanfaatkan sebagai tambahan pakan ternak atau kayu bakar untuk memasak. Sebagai kayu bakar caranya sangat mudah, cukup dibersihkan kulitnya hingga terlihat kayu singkong yang putih kekuningan. lalu sesudah kering, kayu bakar batang singkong sudah bisa dimanfatkan. Tapi seiring banyaknya kompor gas, budaya memasak menggunakan tungku sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat desa (Apalagi di kota ya?). Kalau pun ada, mereka tidak memanfaatkan batang singkong sebagai kayu bakar, warga desa biasanya mengambil batang kayu kering yang jatuh dari pohon-pohon. Dan nasib batang singkong kini hanya berakhir di bakar oleh petani tanpa mengolahnya.
Soal ubi kayu ini, bukankah tujuan utama petani menanam singkong adalah mengambil ubinya. Setahun lalu, petani di Lampung sempat menjerit (bukan seperti menjeritnya anak alay saat nonton konser band) karena anjloknya harga singkong. Bayangkan saja harga singkong saat itu di angka 500 perak. Lah petani mau dapat apa? bukannya untung malah buntung.
Oleh karena itu, saya berharap para petani di kampung kembali ke khittahnya. Saya tidak berbicara muluk-muluk soal pengelolaan singkong menjadi bioetanol, menjadi beras siger (yang harganya lebih mahal dari beras padi), atau menjadi olahan modern dengan peralatan mahal yang tak terjangkau petani. Saya berbicara pengolahan singkong dalam praktik sederhana yang dilakukan petani singkong pada saat masa kecil saya dulu.  Tapi hari ini pengolahan sederhana seperti itu malah banyak ditinggalkan. Padahal petani singkong lebih bisa berdaya dengan pengolahan sederhana tersebut.
Bukankah konsep ekonomi biru demikian, memanfaatkan alam dengan bijak. Dari proses produksi sampai konsumsi tidak ada yang merusak alam. Intinya ramah lingkungan.
Dipengujung tulisan ini saya ingin mengajak sederek handai taulan, “ayo makan singkong” atau “ayo makan gaplek”.  Jangan sampai kalah dengan kementerian yang dipimpin oleh Bu Susi Pudjiastuti yang punya semboyan “ayo makan ikan”. Hehe
Lukman Hakim
Pecinta Tiwul
Baca selengkapnya