Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Monday, December 25, 2017

Waroeng Ternak (Bagian 3)


Lukman Hakim Bersama Muhammad Mas'ud di Waroeng Ternak
Bertepatan Senin, 25 Desember  2017, kakak keponakan saya sudah harus 'tutup buku' diusianya yang baru 34 tahun. Saya jelas kaget dengan kabar ini, sebelum di rujuk ke Rumah Sakit Abdul Muluk Bandar Lampung, saya sempat menjenguknya di Rumah Sakit Muhammadiyah Metro pada Jumat petang 22 Desember 2017.
Saya bergegas pulang pada siang hari 25 Desember 2017 untuk berbelasungkawa dan menghibur bude yang ditinggalkan oleh anaknya.
Sekira pukul  15.00 WIB saya sudah sampai rumah,  berbincang dengan keluarga dan ngobrol di sore yang masih terik. Tak terasa asar datang, tentu saya bergegas untuk salat, bukan sombong tapi itulah kenyataannya.  Bhahaha
Selepas asar saya tidak segera takziah, saya berkunjung  ke lokasi Waroeng Ternak yang ada di pekarangan rumah kakak tertua saya. Ada inovasi yang dikembangkan di sana,  pembuatan pakan ternak fermentasi yang berbahan dasar bonggol pisang--setelah pembuatan pakan fermentasi dari daun singkong.
Tanpa komando tanpa  aba-aba, saya segera mengambil foto dan video di kandang.  Tunggu saja videonya, segera hadir di saluran  yutub Lukman Hakim, tapi sekarang saya akan bercerita tentang pengembangan pakan fermentasi  bonggol  pisang lewat tulisan ini.
Ketersediaan  bonggol pisang yang melimpah yang tidak dilirik oleh masyarakat tentu menjadi motivasi  awal untuk membuat pakan alternatif  ini.  Kakak saya mencari informasi tentang kandungan gizi yang ada di bonggol pisang dari  internet, ternyata kandungan gizi bonggol pisang setara dengan pohon dan buahnya. Saya meyakini bahwa informasi  dari berbagai sumber diinternet ini tidak bisa dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Kalau di suruh makan,  ya jelas saya pilih pisangnya,  bukan bonggolnya.
Tapi bukan itu poin pentingnya, poinnya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah disekitar tempat tinggal. Konsep ekonomi biru, mungkin secara sederhana pembuatan pakan fermentasi bonggol pisang bisa dikatakan demikian.
Tidak sulit untuk membuat pakan fermentasi dari bonggol  pisang.  Pertama kita harus mengumpulkan bonggol pisang yang sudah melewati  masa buah, hal ini bertujuan untuk menghasilkan pakan fermentasi yang maksimal. Bonggol pisang yang sudah melewati masa buah adalah bonggol  pusang yang sudah tua. Bonggol pisang yang  seperti ini akan menghasilkan pakan fermentasi yang awet dan tidak gampang  busuk. Jika kita memilih  bonggol pisang yang belum pernah berbuah (masih muda) maka potensi kegagalan lebih besar dalam pembuatan pakan fermentasi bonggol pisang.
Langkah selanjutnya adalah bonggol pisang dicacah kecil, dicampur dengan air yang sudah ditambah tetes tebu,  M4 peternakan  dan vitamin sesuai dengan kebutuhan ternak kita. Setelah cacahan bonggol  pisang dan bahan-bahan sudah tercampur rata,  bonggol pisang  dimasukkan ke plastik besar dan ditutup rapat (kedap udara). Tunggu 3-4 hari saja maka pakan ternak fermentasi dari bonggol pisang sudah bisa diberikan untuk kambing-kambing kita.
Menurut Muhammad  Mas'ud (kakak saya), sekitar 50 kg pakan ternak fermentasi bonggol pisang bisa untuk  20 ekor kambing selama 10 hari. Tentu pemberian pakan diselingi juga dengan pakan hijau-hijauan sekedarnya saja. Atau bisa juga dipadukan dengan pakan fermentasi dari daun singkong.
Pembuatan pakan fermentasi bonggol pisang dan daun singkong tentu membuat waktu,  tenaga, dan biaya lebih efisien. Jadi peternak tidak harus  ngarit setiap hari,  tidak takut cuaca hujan atau langkanya pakan karena kemarau panjang.  Siapa saja bisa mengembangkan peternakan sebagai salah satu sumber ekonomi yang menjanjikan.
Sekian. Saya akan menutup tulisan ini dengan kalimat bijak dari kakak saya. "Penemuan bukan untuk diperdebatkan tapi untuk dikembangkan".
Salam dari Desa. Jangan takut hidup di desa.



Baca selengkapnya

Monday, December 11, 2017

Waroeng Ternak (Bagian 2)


Embikan kambing membersamai obrolan kami pagi ini (10 Desember 2017) tentang pembuatan pakan fermentasi yang kakak kembangkan belum lama ini. Saya sebelumnya sudah memberikan referensi video-video peternakan kambing yang ada diberbagai daerah di Indonesia.
Setelah menonton video tersebut akhirnya kakak saya memutuskan untuk membuat pakan kambing sendiri dengan inovasi daun singkong karena melimpahnya daun tersebut di Dusun 3B Desa Binakarya Utama Kecamatan Putra Rumbia Kabupaten Lampung Tengah.  
Pembuatan pakan fermentasi terbilang mudah, kita cukup menyiapkan plastik besar sebagai tempat penampungan daun singkong yang sebelumnya sudah di cacah kecil, selanjutnya didiamkan dalam plastik tertutup tersebut selama 2 bulan lebih 15 hari. Setelah waktu tersebut berlaku maka pakan fermentasi sudah bisa diberikan untuk kambing-kambing. Pencacahan daun singkong yang membentuk tekstur lebih kecil tujuannya agar duan singkong yang sebagain memilki dahan yang keras tidak merusak plastik, juga untuk mempermudah memasukkan daun singkong dalam plastik.

Keberhasilan pembuatan pakan fermentasi ini ditandai dengan bau khas yang muncul dari daun singkong. Ada aroma seperti madu hutan ketika kita mencium daun singkong, warna daunnya bukan hitam tetapi coklat. Produk pakan fermentasi dikatakan gagal apabila hasil akhir daei pakan fermentasi berbau busuk dan daun berwarna hitam.
"Apa daun lain tak bisa dimanfaatkan mas?" celetuk saya.

"Bisa saja kita memanfaatkan daun lain seperti daun muntul, atau daun lainnya. Tapi kan stoknya tidak banyak. Dan pembuatan pakan fermentasi harus full satu plastik, kalau tidak ya nanggung. Eman-eman plastiknya," jelasnya.

Daun muntul tidak memiliki struktur seperti daun singkong. Daun muntul memilki tekstur daun lebih lembut di bandingkan daun singkong sehingga daun muntul berpotensi lebih besar untuk gagal.
Pagi itu saya melihat kambing-kambing di kandang tidak diberi pakan fermentasi. Di sepanjang tempat pakan yang memanjang 5 meter saling berhadapan di isi dengan daun singkong yang belum difermentasi. Jumlahnya yang sedikit inilah yang menyebabkan pakan tersebut belum difermentasi dan diberikan langsung ke kambing-kambing.
Inovasi pembuatan pakan fermentasi ini bisa menghemat biaya dan waktu. Jadi ketika kakak saya bisa membawa satu edet pakan ternak ke kandangnya maka dia tidak akan mencari pakan (ngarit) selama hampir satu minggu ke depan.
Selain pakan fermentasi, di peternakan kecil-kecilan Waroeng Ternak ini kami juga memberikan minuman kambing yang dicampur dengan tetes tebu atau limbah sisa  olahan tebu. Menurut penuturan Aji, salah satu teman yang bekerja di peternakan Humas Lampung Tengah, tetes tebu ini bisa membantu membuat gemuk kambing-kambing yang ada. Saya selalu berkonsultasi dengan mereka yang berkompeten dalam peternakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Cukup sekian cerita tentang Waroeng Ternak kali. Saya akan lanjutkan dengan cerita dan kesempatan yang tentunya.

Baca selengkapnya

Sunday, December 10, 2017

Waroeng Ternak (Bagian 1)



Pagi tadi (10 Desember 2017) saya berkunjung ke rumah kakak sulung saya−Muhammad Mas'ud−untuk melihat kambing yang ada di kandangnya. Saya bersama Asep Iman Suwargana sengaja datang pagi karena siangnya kami akan bergegas ke Kota Metro Lampung. Letak rumah kakak tak jauh dari rumah orang tua yang ada di Dusun 3B Desa Binakarya Utama Kecamatan Putra Rumbia Kabupaten Lampung Tengah.
Peternakan kambing kecil-kecilan ini saya inisiasi bersama kakak karena kami melihat peluang yang menjanjikan dari usaha ini. Tidak butuh waktu lama kami segera saja membuat kandang kambing di lahan dekat rumah kakak di bulan Agustus 2017.
Saya mengajak kawan-kawan berinvestasi di usaha ini. Pada 25-27 Juli 2017 saya berkesempatan mengikuti kegiatan "Lokakarya Pertukaran Pembelajaran STBM untuk Mendukung Pencapaian Universal Acces 2019" di Hotel Seraton Lampung. Pada kesempatan itu saya menginap di kontrakan Khoirul Anwar yang merupakan adik kelas sewaktu duduk di bangku SMA. Saya bercerita tengah merintis usaha peternakan kambing, lalu Anwar segera tertarik untuk ikut bergabung dan mentransfer uang sejumlah Rp.2.000.000.
Setelah Anwar, saya juga menceritakan usaha yang tengah saya geluti ini kepada kawan-kawan lain. Asep Iman Suwargana, Muhammad Ridho, Dwi Okta, Dwi Nugroho dan beberapa teman lain sudah ikut berinvestasi.
Menurut istilah orang Jawa, usaha yang sedang saya geluti dinamakan gadu. Secara sederhana gadu adalah satu pihak memberikan kepercayaan kepada pihak lain untuk memelihara kambing yang dimiliki pihak pertama. Biasanya sistem bagi hasil yang digunakan dalam gadu adalah pembagian anak sapi/kambing yang dibagikan secara bergantian. Artinya kelahiran pertama kambing biasanya bagian pemelihara kambing, kelahiran kedua (lahir berikutnya) menjadi bagian si pemilik kambing.
Kelemahan sistem bagi hasil ini adalah ketika terjadi kematian pada saat kelahiran kambing maka pihak yang saat itu seharusnya mendapatkan bagian tidak akan mendapatkan apa-apa. Maka sistem bagi hasil yang saya tawarkan dalam peternakan kambing ini adalah pembagian hasil akhir pada saat kambing dijual. Jadi ketika pihak satu memberikan uang untuk dibelikan kambing dan saya (yang diwakili kakak sebagai pemelihara) membelikan kambingnya itulah yang dihitung sebagai harga dasar. Setelah kambing melahirkan dan kemudian dijual maka porsi bagi hasilnya adalah 60 bagian untuk pihak pengelola dan 40 bagain untuk pemilik dana setelah di potong biaya perawatan, biaya kesehatan dan biaya lain-lain.
Risiko kematian sudah pasti membayangi peternakan kambing yang bisa saja disebabkan karena masuk angin, keracunan, atau faktor lain. Pembagian risiko berdasarkan porsi sebab musababnya. Jika kambing mati karena kesalahan saya (pihak pengelola) maka risiko kami yang akan tanggung. Tapi jika risiko kematian timbul karena faktor alam maka risiko akan ditanggung bersama. Tapi berdasarkan pengalaman selama ini, kami selalu menanggung risiko secara bersama-sama.
Waroeng ternak ini adalah bagian dari keinginan saya untuk merealisasikan beasiswa Kambingku untuk anak didik Waroeng Batja. Tentu program beasiswa ini ke depan bisa saya koordinasikan dengan program Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang akan berjalan di tahun 2018 mendatang dengan program pemberian gadu kambing kepada warga yang mau memelihara.


Baca selengkapnya

Wednesday, December 6, 2017

Pendamping Sosial Jembatan Menuju Pendamping Hidup


Mendaftar seleksi program keluarga harapan (PKH) yang berada di bawah Kementerian Sosial pada saat itu adalah paksaan dari Selacalon istri saya. Informasi tentang pendamping sosial ini sampai di telinga saya tiga hari sebelum pendaftaran ditutup. Saya mendaftar secara online dibantu oleh Imam Solihin yang merupakan kawan saat mondok (waktu saya menempuh pendidikan diploma), tanggal 17 Oktober 2017, tepat 1 hari sebelum pendaftaran ditutup.
Saya sebenarnya tidak terlalu berharap lulus karena sedari awal mendaftar pun sebenarnya kurang 'klik'. Tapi saya mengikuti  saja alur yang ada, saat pengumuman seleksi administrasi saya dinyatakan lolos oleh panitia sehingga saya harus menuju tahap berikutnya yaitu mengikuti seleksi kompetensi bidang.
Seleksi kompetensi bidang ini dilaksanakan pada tanggal 12 November 2017 di SMK Negeri 2 Metro. Jadi para pelamar yang lulus seleksi administrasi dari daerah Lampung Tengah, Lampung Timur dan Metro, semua berkumpul di sekolah ini untuk melaksanakan tes tersebut.
Di hari minggu pagi itu, saya berpakaian baju putih dan bercelana hitam. Hampir semua peserta mengenakan pakaian yang sama, walaupun ada beberapa peserta yang menggunakan kemeja bukan warna putih tapi mereka tetap saja bisa mengikuti tes kompetensi bidang ini.
Saya merasa kesal dengan berjubalnya peserta yang akan ikut dalam tes tersebut. Menurut jadwal yang tertera di pengumuman, pukul 07.00 WIB peserta sudah berada di dalam ruang tes dan sudah mulai mengerjakan soal. Tapi apa daya, sampai pukul 08.00 WIB peserta yang mengikuti tes di ruangan gedung serbaguna SMK N 2 Metro itu belum juga rampung masuk. Panitia masih mengecek satu persatu peserta dengan melihat kartu tanda penduduk dan syarat lain yang harus di bawa oleh peserta.
Otomatis pelaksanaan tes molor dan saya harus rela menahan lapar. Untung saja panitia memberikan jajanan pengganjal perut yang segera saya santap sambil mengobrol dengan kawan tes yang ada di kiri saya, Muhammad Bisri Namanya dari Kecamatan Kalirejo.
Sebelum berangkat ke lokasi tes, saya pun tak sempat sarapan karena pukul 06.30 WIB saya sudah ada di lokasi tes, saya harus mengecek nomor tes serta lokasi tes.
Di lokasi tes saya bertemu dengan kawan lama dari lintas organisasi sampai lintas umur. Ada dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ansor, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), dan berbagai organisasi lain.
Saya memandang selalu ada permainan "kotor" dalam pelaksanaan penerimaan pegawai seperti ini. Bisa saja suatu organisasi membawa kadernya untuk diloloskan di tes tertentu, termasuk dalam tes PKH kali ini. Saya berfikir positif saja, tak ada nepotisme yang dilakukan oleh peserta. Jika ada, mungkin dilakukan oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung.
Tanggal 1 Desember 2017 kemarin adalah pengumuman akhir dari tes penerimaan pegawai PKH, baik operator, koordinator wilayah, koordinator provinsi maupun pendamping sosial. Saya tidak memantau laman kemsos.go.id atau keluargaharapan.com secara terus menerus. Sampai tanggal 1 Desember 2017 berakhir, pengumuman hasil tes tersebut belum juga keluar sehingga warganet yang ikut tes merasa gelisah (geli-geli basah)  dan menanyakan kepada admin kapan pengumuman akan keluar.
Keesokan paginya tanggal 2 Desember 2017, yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pengumuman sudah diserukan, pagi itu saya masih berbaring di atas kasur karena merasa mengantuk tapi tidak tidur.
Sekitar pukul 09.00 WIB saya cek laman website Kementerian Sosial, dan mengunduh pengumuman hasil tes tersebut. Nama saya keluar sebagai salah satu dari ribuan peserta yang lolos dalam tes tersebut. Jelas saya merasa bahagia, tapi saya terlalu histeris mengekspresikan rasa bahagia tersebut. Saya bersyukur dalam hati, ini pasti merupakan doa yang dikabulkan Tuhan. Doa orang tua, doa kawan-kawan, dan pasti doa mereka yang selalu mendoakan sayayang saya tahu maupun tidak saya ketahui.
Bergabungnya saya sebagai salah satu pendamping sosial di Kecamatan Putra Rumbia tentu mendekatkan saya pada keinginan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di tanah kelahiran. Saya akan memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka yang membutuhkan, dengan masyarakat, dan tentu hobi saya yang suka berinteraksi dengan masyarakat ini difasilitasi oleh pemerintah dengan bergabungnya saya sebagai pendamping sosialhobi yang dibayar.
Pendamping sosial juga lebih mendekatkan saya kepada calon pendamping hidup karena di tahun 2018 mendatang bersamaan dengan masa kerja saya sebagai pendamping sosial, saya juga akan memantapkan diri untuk melamar sang kekasih hati. Bukankah dibalik seorang pendamping sosial yang tangguh selalu ada seorang pendamping hidup yang selalu mendukung dan memberikan semangat?
Jadi, untuk anda para jomblo yang sok-sokan menjadi pendamping sosial di berbagai bidang, atau anda sebagai pendamping desa, jika kalian belum memiliki pendamping hidup, meranalah diri kalian?
Jadi, mari kita sukseskan pekerjaan sebagai pendamping sosial sekaligus sukseskan amanah mencari/membina/merawat pendamping hidup. Hahaha.
Hidup jomblo!!!!!

Baca selengkapnya

Saturday, November 11, 2017

Pilih Sayur atau Kopi?


Lima hari di Lampung Barat (29 Oktober 2017-2 November 2017) membuat saya tahu tentang sekelumit alasan kenapa para petani kopi di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau memilih membongkar ladang kopi mereka dan memutuskan memilih sayuran sebagai komoditas yang ditanam.
Jelas saya akan bercerita tentang Pak Dul Mukmin karena selain selama lima hari di Pekon Hanakau saya tinggal di rumah beliau, Pak Dul Mukmin juga representatif sebagai perwakilan petani yang membongkar ladang kopi dan memilih menanam sayur.

Dalam suatu kesempatan, Pak Dul Mukmin bercerita tentang sayuran yang memiliki masa tanam-panen cepat sehingga lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan menanam kopi. Petani di Pekon Hanakau juga banyak yang menerapkan sistem tumpang sari dalam menanam sayuran. Dalam satu lahan, petani bisa menanam empat jenis tanaman sekaligus seperti sawi, cabai, tomat dan kacang tanah. Atau jenis tanaman lain. Artinya petani akan panen secara terus menerus sesuai dengan panjang umur tanaman, dan sampai masa panen habis.
Dengan sistem tumpang sari, petani bisa menekan tingkat kerugian karena gagal panen atau harga yang anjlok. Petani kadang memperoleh harga yang rendah di satu tanaman tapi bisa mendapatkan harga tinggi di jenis tanaman lain. Dengan model inilah petani sayuran di Pekon Hanakau bisa menutup biaya modal dan mendapatkan keuntungan dari kalkulasi panen  sayuran mereka.

Yang menjadi kendala utama petani sayur di Pekon Hanakau adalah soal harga komoditas yang tidak stabil. Harga komoditas sayuran yang tidak stabil biasanya di sebabkan oleh stok yang melimpah. "Biasanya kalau ada kiriman sayur dari Sumatera Utara atau Jawa harga-harga di sini akan anjlok. Tomat sekarang cuma 700 rupaih makanya petani enggan untuk memanen. Kalau di panen mereka tidak akan untung, kotaknya saja perbiji 9000, biaya petik berapa, biaya ojek berapa. Petani bakal rugi jika memanen dengan harga cuma segitu," terang Pak Dul Mukmin.
Terhitung sudah tujuh tahun terakhir ini Pak Dul Mukmin menjadi petani sayur. Walaupun sudah menjadi petani sayur, rupanya pak Dul Mukmin masih mempertahankan dua hektar tanaman kopinya. “Bapak ini masih punya dua hektar lahan kopi. Sebenarnya kak Junet itu sudah mau buka lahannya untuk tanam sayur lagi. Tapi karena anak bapak masih sekolah (Asep, Mumun, Oyan), akhirnya kopi itu buat tabungan karena kopi hasilnya kan tahunan. Sedangkan sayuran hasilnya setahun bisa dua atau tiga kali,” jelas Pak Mukmin.
Bagi petani yang memiliki lahan lebih dari satu hektar seperti Pak Dul Mukmin, pilihan membuka sebagain lahan untuk sayuran dan membiarkan sebagian lain tetap dengan tanaman kopi adalah pilihan bijak. Menanam sayuran sebagai sumber pendapatan jangka pendek, dan membiarkan kopi sebagai investasi jangka panjang.
Kalau saya pribadi sih ingin menikmati kopi Liwa, sembari belajar bertani sayur, juga belajar bertani kopi. Udah itu lebih dari cukup. Hehehe
Tabik!

Penulis: Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Friday, November 10, 2017

Melirik Hamtebiu Menjadi Wisata Sejarah

Malam di Hamtebiu


Di balik keindahan Hamtebiu yang dua tahun ini tengah dibangun oleh Pemerintah Daerah Lampung Barat, ternyata ada cerita 'seram' yang menyelimutinya. Hamtebiu yang saya tahu adalah taman/kolam yang ada di Pasar Liwa Kecamatan Balikbukit tepatnya berada di bawah puncak Liwa—komplek rumah dinas Bupati Lampung Barat.

Sekilas melintas, tak ada yang aneh dengan penampilan kolam Hamtebiu. Malah terkesan Hamtebiu akan disulap menjadi tempat nongkrong yang asik untuk warga Lampung Barat, khususnya yang dekat dengan kawasan tersebut, juga untuk para turis baik lokal maupun domestik.  
Hampir sepekan berada di di Lampung Barat (29 Oktober 2017-2 November 2017), saya sempat berkeliling ke beberapa tempat wisata di sana, salah satunya tentu nongkrong di Hamtebiu. Malam itu, suasana Hamtebiu ramai, asyik, dingin tentu saja, banyak juga anak-anak muda yang nongkong untuk sekadar ngobrol dan bercengkerama. Ada pula pekerja yang sedang lembur mengerjakan pembangunan di sekitaran Taman Hamtebiu. Di pojok sebelah barat−dilihat dari jalan utama, kita bisa melihat patung Sekura yang baru selesai dikerjakan. Patung ini dibuat sebagai monumen yang mewakili budaya Sekura di Lampung Barat. Gelaran Sekura sendiri merupakan perhelatan budaya sebagai ajang silaturahmi masyarakat Sekala Brak yang dilaksanakan pada 1 sampai dengan 6 syawal setiap tahun. Sayang sekali, malam hari bukan waktu yang tepat untuk foto bareng patung Sekura.

Malam di Hamtebiu


Menurut cerita Asep yang mengikuti acara Sekura pada tahun 2107. Dia hadir di hari ke enam pelaksanaan Sekura yaitu di Pekon Canggu, Kecamatan Batubrak. Muda mudi tumpah ruah meraimaikan acara tersebut. “Dalam acara Sekura ini, warga Lampung Barat bersatu, saling mendukung, saling mengenal, juga disatukan oleh seragam khas yang dikenakan dalam acara tersebuit,” terang Asep.  
Konon kolam Taman Hamtebiu tak pernah kering walaupun diameternya saya perkirakan tak lebih dari 30 meter. Ikan-ikan di kolam Hamtebiu hukumnya "haram" untuk diambil, dipancing atau dijala. Oleh karenanya, ikan-ikan di kolam Hamtebiu besar-besar dan gemuk.
"Ini banyak ikan apa tak pernah dipancing kak?" tanya saya kepada Kak Junet.
"Nggak ada yang berani ambil ikan-ikan di Hamtebiu."
"Kenapa kak?"
"Entahlah, mungkin warga takut atau karena tidak boleh diambil ikannya. Dulu disini ditanam berapa ribu ikan oleh pemerintah dan sampai sekarang tidak pernah diambil," terang Junet.
Menurut cerita Pak Dul Mukmin, salah satu warga Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, Hamtebiu adalah kolam pemandian jenazah massal saat terjadinya gempa Liwa tahun 1994. Banyak korban meninggal pada saat gempa Liwa terjadi, rumah-rumah warga banyak yang roboh, warga panik, tentu kerusakan ada di sana sini. Asep Iman Suwargana saat itu masih ada dalam kandungan Bu Junaeti−istri Pak Dul Mukmin. 

Foto di Makam Pahlawan Liwa Lampung Barat


Setelah gempa reda, banyak korban berjatuhan diangka ratusan. Ada korban yang memiliki sanak keluarga di Liwa dan banyak perantau yang tidak dikenal siapa kerabat dekatnya. Orang-orang yang tidak punya saudara inilah yang kemudian dimandikan bersama di Hamtebiu, dikafani, di salati (yang beragama Islam), dan dimakamkan di makam pahlawan yang berada di atas bukit, jaraknya sekitar 50 meter dari kolam Hamtebiu. 
Junet—kakak Asep—yang saat itu baru berumur lima tahun, waktu gempa terjadi dia sedang asyik menonton televisi di rumah Giono. Junet bercerita bahwa getaran gempa Liwa tahun 1994 itu cukup membuat rumah dan isinya  porak poranda. Giono sang pemilik rumah malah sempat tertimpa lemari kayu. "Sempat tertimpa lemari kayu, tapi dia selamat. Tak ada luka yang diderita Pak Giono," terang Junet.
Trauma gempa masih membayang orang-orang yang pernah merasakan 'sensasi' gempa Liwa tahun 1994. Beberapa kali pernah terjadi getaran kecil yang menggoyang Pekon Hanakau dan Lampung Barat, warga tak panik, mereka sigap keluar rumah untuk menyelamatkan diri dan keluarga. "Warga sini langsung keluar saat ada gempa kecil beberapa kali. Pernah beberapa kali terjadi lagi setelah tahun 1994," ujar Dul Mukmin.
Saya fikir warga di Lampung Barat sudah terbiasa dengan ancaman gempa yang sewaktu-waktu terjadi. Mereka menjadikan pengalaman adalah guru terbaik. Hamtebiu dan makan pahlawan menjadi salah satu saksi sejarah  yang bisa dijadikan tujuan wisata sejarah di Lampung Barat. Lalu apakah Hamtebiu bisa dijadikan sebagai wisata sejarah gempa Liwa tahun 1994? Jelas jawabannya bisa.
Sebagaimana layaknya sebuah museum, pemerintah kabupaten Lampung Barat harus mempersiapkan infrastruktur Hamtebiu sebagai sebuah museum. Pertama, pemerintah daerah harus mempersiapkan tempat yang representatif, nyaman, dan komunikatif. Hamtebiu yang masih dalam proses renovasi harus dipersiapkan secara maksimal dengan menyediakan gedung khusus sebagai tempat penempatan foto-foto gempa Liwa 1994, dokumen dan segala yang terkait dengan goncangan dasyat tersebut.  .
Foto-foto bisa dikumpulkan dengan melibatkan banyak pihak dari jurnalis, kolektor foto dan siapa saja yang memilki foto gempa Liwa. Bisa saja acara pengumpulan foto (dukumentasi) dibuat dengan format acara khusus seperti acara amal, doa bersama, sayembara atau dengan format acara lain. Foto yang dikumpulkan bisa saja foto Lampung Barat zaman old sebelum terjadi gempa, foto pasca terjadinya gempa, atau foto kekinian sehingga masyarakat atau turis bisa melihat bagaimana dasyatnya gempa waktu itu. Biarkan saja foto yang bercerita tentang kondisi Liwa saat itu, begitu kira-kira.
Selain foto, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat bisa menggandeng sineas lokal untuk membuat film dokumenter gempa Liwa 1994. Film ini jelas bercerita tentang mereka yang terkena dampak gempa, tentang mereka yang ditinggal mati saudara yang meninggal, tentang kehidupan setelah terjadinya gempa 1994. Saya kira Lampung Barat memilki segudang anak muda kreatif yang mempunyai kemampuan membuat film. Tentu dengan adanya proyek pembauatan film dokumenter, pemerintah daerah juga memberikan ruang berekspresi bagi perkembangan ekonomi kreatif (film), juga untuk mengangkat talen lokal agar karya-karyanya diketahui dan dinikmati publik secara luas.
Keberadaan tour guide juga tak bisa dianggap sepele. Tujuannya untuk memberikan informasi kepada turis yang datang. Pemilihan guide tentu dengan seleksi ketat, dibutuhkan orang yang benar-benar paham dengan sejarah Liwa tahun 1994 dan berbagai fakta tentang gempa Liwa Selain itu, jelas tour guide harus orang lokal yang paham betul tentang Lampung Barat. Tour guide yang bersahabat, komunikatif, berwawasan luas, paham seluk beluk gempa Liwa tentu akan menjadi atensi para turis untuk datang.
Lebih keren lagi, di Hamtebiu dan Makam pahlawan disediakan papan informasi yang telah dilengkapi dengan sentuhan teknologi. Papan informasi yang menyediakan cerita tentang gempa Liwa 1994, ditampilkan dalam bentuk gambar atau tulisan−atau keduanya. Dengan sentuhan teknologi yang ada harapan Hamtebiu sebagai wisata sejarah tentu bukan sekadar mimpi.
Dengan bonus kondisi alam Lampung Barat yang memilki banyak potensi wisata dibandingkan dengan daerah lain di Provinsi Lampung. Pemerintah juga bisa menyediakan peta wisata Lampung Barat di papan informasi digital tersebut. Dengan menyediakan peta informasi, duide yang mumpuni tentu pariwisata di Lampung Barat bisa berkembang pesat.
Saat ini saya melihat banyak akun instagram yang mulai fokus mempromosikan wisata Lampung Barat. Sebut saja @akunrino, @sekalabrak_treasureoflampung, @pekonhanakau, @lambargeh, @pariwisata_lampungbarat, @lambankopi dan banyak lagi akun lain. Bayangkan jika mereka berkolaborasi maka akan ada percepatan gerakan pariwisata di Lampung Barat.
Selain keindahan alam, Gunung Pesagi, Danau Suoh, Danau Ranau, Gunung Seminung, Lampung Barat surga sayuran, kopi Liwa yang sudah mendunia, dan dinginnya Lampung Barat yang buat nyaman berjalan-jalan kapan saja. Hamtebiu dan makam pahlawan bisa dijadikan sebagai pusat monumen (bisa museum) sisa gempa Liwa 1994. Yang jelas, pemerintah membangun wisatanya, warga menjaga kebersihan dan keindahannya dan pengunjung menikmati dan tidak merusak alamnya. Kolaborasi adalah kuncinya.
"Hamtebiu wisata sejarah Gempa Liwa 1994" ini mungkin bisa menjadi jargonnya.
Tabik!
Penulis: Lukman Hakim
Baca selengkapnya