Showing posts with label Sekedar Tulisan. Show all posts
Showing posts with label Sekedar Tulisan. Show all posts

Monday, November 5, 2018

Cumlaude


Ada cerita lucu saat saya berhasil wisuda strata satu (S1) di IAIN Metro. Saat itu mamak hadir pada acara wisuda yang digelar di halaman kampus 1 IAIN Metro, Selasa, 6 Maret 2018. 

Mamak ditemani calon mantu (sekarang sah jadi mantu)  karena undangan hanya 2 orang. Bapak waktu itu tidak bisa hadir diacara wisuda karena sedang ada urusan. 

Menurut keterangan mamak, beliau mendengarkan dengan seksama dan sabar menunggu nama Lukman Hakim disebut oleh pembaca acara. Memang ada beberapa nama Lukman Hakim yang waktu itu wisuda bersama saya. Ketika nama saya disebutkan, hati mamak ser-seran terlebih memang benar jika itu adalah saya. 

"Lukman Hakim, cumlaude." Begitulah yang mamak dengar. Hati mamak terasa remuk dan meneteskan air mata mendengar saya mendapatkan predikat cumlaude. Bukan apa-apa, usut punya usut ternyata mamak mendengar mahasiswa lain mendapatkan predikat memuaskan dan sangat memuaskan. Mamak kira predikat cumlaude merupakan predikat terburuk.

Setelah itu mamak ngomong kepada istri saya (dulu masih calon) kenapa saya mendapatkan nilai cumlaude. Setelah dijelaskan bahwa nilai cumlaude merupakan nilai diatas memuaskan dan sangat memuaskan mamak tersenyum semringah. 

Setelah selesai prosesi wisuda, anggota keluarga kami yang hadir mendengarkan cerita soal predikat cumlaude tersebut. Kami ya tertawa kemekel mendengar cerita mamak. Tapi begitulah orang tua. Dia hanya berharap anak-anaknya mendapatkan nilai dan apa-apa yang terbaik untuk hidupnya. 

Saya pernah merasa berat menyelesaikan skripsi, bukan karena saya tak mampu tapi karena malas yang membara. Mamaklah yang kemudian cerewet menanyakan kapan saya akan lulus, bertanya dan selalu bertanya. Saya pernah mundur wisuda satu periode karena tak 'nafsu' mengerjakan skripsi.  Karena dorongan mamak dan calon istri akhirnya saya mau menyelesaikan skripsi.

Ada ancaman mengerikan yang saya terima kalau saya tak lulus. "Yaudah, kita nggak usah nikah aja kalau kakak nggak mau ngerjain skripsi," ujar calon istri saya suatu ketika.

"Waduh, gaswat." pikir saya. Akhirnya saya pun selesai dengan mempertahankan nilai cumlaude seperti waktu D3. 

Mempertahankan cumlaude bagi saya merupakan tanggung jawab moral terhadap orang tua. Memang tak ada jaminan predikat cumlaude untuk kecemerlangan masa depan seseorang. Tapi apakah nilai dibawah cumlaude bisa menjamin masa depan? Plis jawab sendiri.

Semasa melanjutkan strata satu reputasi saya sudah terbangun di kampus. Oleh karenanya walaupun saya jarang masuk kelas saya tetap bisa mendapatkan nilai minimal B. He-he. 

Mohon ini tidak ditiru. Saya meyakini bahwa yang saya lakukan salah karena tidak masuk kelas, tidak ikut kegiatan belajar mengajar. Tentu saja semua orang harus menjalani proses dengan baik dan rapi. Jangan melakukan akselerasi jika tak mampu. 

Saya menutup kekurangan saya tidak hadir dikelas dengan banyak menulis di media. Alhasil tetap ada nilai plus yang saya dapat. 

Sebagai pamungkas saya berpesan raihlah nilai cumlaude setinggi-tingginya sebagai hadiah untuk orang tua. Tapi jangan lupa berproses untuk menyiapkan masa depan dengan skill dan hobimu. Udah,  itu saja. 


Putra Rumbia, 5 November 2018
Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Tuesday, December 5, 2017

Pijat Plus


Selepas asar (5 Desember 2017) saya bergegas ke rumah Pak Ngadimin yang ada dibilangan 21 C, tepatnya di depan Lapangan Garuda Metro Timur. Terakhir menyambangi rumah Pak Ngadimin sekira tahun 2013 lalu, ketika kaki saya kecetit setelah rekreasi dari pantai bersama teman-teman Perbankan Syariah STAIN Metro.
Sore ini saya banyak mendapatkan cerita yang dulu tak pernah saya abadikan dalam tarian kata dan kalimat. Pak Ngadimin adalah orang asli Metro (lahir dan besar di kota ini) yang sudah 20 tahun menekuni profesi sebagai tukang pijat. Selama menjalani profesi sebagai pelemas urat syaraf yang kaku, tentu Pak Ngadimin bertemu dengan banyak orang dengan ragam karakter dan profesi. Dari dosen, polisi, mahasiswa, anak-anak, bapak-bapak, atau warga biasa pernah menjadi orang yang menikmati jasanya.
Perlakuan yang diberikan kepada setiap pasien berbeda. "Setiap orang punya kekuatan yang berbeda baik fisik ataupun kemampuan kerjanya. Oleh karena itu, perlakuan dalam memijitnya pun berbeda," terang Pak Ngadimin ketika saya bertanya berapa kali seseorang baiknya berpijat ria.
"Setiap orang pasti tidak sama. Ada yang membutuhkan pijat dalam kurun waktu yang dekat, ada juga mereka yang bisa empat kali dalam setahun," tambahnya.
Sebelum menekuni profesi sebagai tukang pijat, Pak Ngadimin dulu bekerja sebagai tukang bangunan. Kemampuan memijatnya dia peroleh dari sang kakek yang dahulu juga seorang pemijat.  Menurutnya, menjalani titah sebagai  tukang pijat itu membutuhkan kesabaran dan keuletan. Tidak boleh tukang pijat menyombong diri dan kurang ikhlas. "Setidaknya kalau orang berminat jadi tukang pijit mereka harus tekun, sabar, rendah hati, ikhlas," begitulah ketika saya bertanya apa syarat menjadi tukang pijat.
Tujuh saudara kandung Pak Ngadimin tak ada yang menjadi tukang pijat seperti kakeknya. Hanya Pak Ngadimin seoranglah yang sukses meneruskan profesi tersebut.
Selain menjadi tukang pijat, rupanya Pak Ngadimin memilki cukup banyak ternak yang dia gadukan kepada keponakannya. Sapi dan kambing sengaja dia titipkan kepada keponakannya karena Metro (daerah tinggal Pak Ngadimin) bukan daerah yang cocok untuk beternak. Maka keponakannya yang tinggal di Kecamatan Pekalongan Lampung Timur yang ditugaskan memelihara ternaknya karena Pekalongan masih bernuansa desa dan memilki lahan cukup luas untuk mencari pakan .
Sebelum menjadi tukang pijat rumahan, Pak Ngadimin menjalani profesi sebagai tukang pijat jemputan. Pak Ngadimin pernah diminta memijat oleh pasien dari Sukadana, Kotabumi, Sukarame Bandar Lampung, Lampung Tengah dan berbagai daerah lain di Lampung. Setelah waktu berlalu, akhirnya Pak Ngadimin memutuskan tidak mau menjadi tukang pijat jemputan. Siapapun yang akan memakai jasanya harus datang ke rumah Pak Ngadimin tanpa membedakan jabatan dan kekuasaan seseorang.
Pak Ngadimin juga memilki pekerjaan yang sudah dilakoninya lebih dari 10 tahun lalu yaitu membuat lontong daun pisang. Setiap hari Pak Ngadimin bisa menjual sebanyak 600 buah lontong di pasar. Produksi dibantu oleh anak-anaknya yang tinggal tak jauh dari rumah Pak Ngadimin. Setiap lontong dijualnya dengan harga Rp.1.500 rupiah. "Wah, banyak duit dong pak," ketus saya mendengar cerita Pak Ngadimin.
"Belum tentu mas. Harga beras sekarang mahal jadi untungnya pun tidak banyak. Saya beli beras yang harganya sepuluh ribu perkilo," timpal Pak Ngadimin.
"Setiap sekilo jadi berapa lontong pak?" tanya saya lagi.
"Satu kilo beras bisa bikin dua puluh lontong."
Jadi silakan hitung sendiri berapa keuntungan yang diperoleh Pak Ngadimin setiap harinya. Atau minimal kita bisa menghitung omzet setiap harinya. Lumayan! Dari pada lu manyun.
Banyak yang saya ceritakan kepada Pak Ngadimin, dari pengalaman belajar, bekerja atau sekadar cerita tentang kesenangan saya berjalan-jalan. Pak Ngadimin adalah tipe orang yang mau mendengarkan orang lain, oleh karenya kami bercerita mengalir saja. Saya juga bercerita tentang rencana  saya yang akan melamar seorang perempuan idaman di tahun 2018 mendatang.
Yang jelas, sore ini saya mendapatkan banyak ilmu dari pengalaman hidup Pak Ngadimin. Mendapatkan pijat sampai menjelang azan magrib tentu sesuatu kesenangan tersendiri buat saya. Kesenangan zaman now yang saya rindukan, bisa berbincang hangat tanpa  diganggu gajet. Lalu, apakah anda tidak mau mendapatkan pijat plus-plus? Dipijat plus dapat ilmu, plus belajar kesahajaan.
Alhamdulillah!!

Baca selengkapnya

Sunday, November 26, 2017

Hajatan: Sebuah Renungan Bersama


Hari Sabtu kemarin (25/11), saya berkesempatan rewang di kediaman orang tua salah satu dosen. Rewang adalah hadirnya seseorang dalam suatu pesta, dimana tujuan kedatangannya diminta untuk membantu saat berlangsungnya pesta sampai dengan acara usai. Istilah rewang ini bisa sangat mudah kita temukan dalam budaya Orang Jawa.
Dari setelah magrib (24/11) saya sudah ada di rumah orang tua Kak Dharma Setyawan, di Desa Srisawahan dekat dengan lokasi wisata warga Dam Raman. Malam itu kami seperti layaknya orang rewang; menata kursi, membantu mempersiapkan temp dudukat tamu, mempersiapkan meja untuk penyambutan tamu, dan semua yang berhubungan dengan persiapan pesta yang akan berlangsung besok paginya.
Saya tak ikut merampungkan pekerjaan malam itu, persiapan lain-lain diselesaikan oleh kawan-kawan #ayokedamraman Desa Srisawahan Lampung Tengah yang malam itu datang seusai yasinan sekitar pukul 22.00 WIB.
Pagi harinya, saya bersama Tomi Nurrohman, Habib Rubai, Elman Darmansyah bergegas ke masjid setempat untuk salat subuh sekalian mandi di sana. Selepas itu, kami menuju rumah dan mempersiapkan peralatan yang akan menjadi alat tempur kami untuk mengabadikan gambar dan video dalam acara pernikahan Mbak Meti dan suaminya.
Sekira pukul 07.00 WIB, kawan-kawan lain yang merupakan bagian dari tim Cangkir Digital Creative (CDC) datang. Elvan Firmansyah (Kembaran Elman Darmansyah), Ajad Sudrajad, Wahyu Eko Prasetyo (Wepo). Tak lama tawa pecah diantara kami. Selalu ada guyonan yang dilontarkan dalam tim CDC ini. Ada saja yang menjadi bahan guyonan, tujuannya tidak lain untuk sekadar menjaga suasana asyik dan yang pasti agar terjalin hubungan yang hangat.  Tak lama Dwi Nugroho datang, dia adalah salah satu editor yang menyelesaikan film Dam Raman tempo hari yang dipresentasikan di acara AICIS 2017 yang bersamaan dengan acara Pendis Expo.
Kami segera mencoba peralatan yang ada; kamera, handycam, tripod, dan semua peralatan yang kami bawa kami coba satu persatu untuk memastikan tak ada kendala. Pagi itu suasana aman, kebersihan sekitar area pesta masih terjaga dan cuaca belum terlalu terik.
Semuanya berubah ketika negara api menyerang. Eh, maksud saya semua berubah ketika tamu/rombongan mempelai lelaki datang. Ketika mereka mulai makan aneka jajanan yang disediakan, minum air mineral yang ada. Sampah mulai berserakan, suasana mulai panas, dan cuaca pun panas dengan naiknya matahari menuju garis poros.
Semua seakan tak peduli, semua orang sedang fokus melihat dan mendengarkan rentetan acara ijab kabul. Setelah selesai ijab kabul pun masih sama, sampah terserah dimana-mana.
Memang di pesta tersebut tak ada petugas khusus yang mengurusi. Terlebih karena di desa, memang tidak ada petugas kebersihan. Ini jamak terjadi di pesta yang diadakan di desa-desa−termasuk Desa Binakarya Utama tempat saya lahir dan besar.
Meriahnya pesta, kebahagiaan mempelai, keriuhan orang yang datang nyumbang/mbecek, menyatu dengan sampah yang ada. Tak ada kotak sampah yang disediakan oleh panitia adalah salah satu yang menyebabkan tamu membuang sampah sembarangan, bisa juga karena kesadaran peduli terhadap sampah masih kurang.
Apapun alasannya, budaya seperti ini jelas kurang baik.  Pada akhirnya kita juga perlu memperhatikan masalah sepele ini sebagai salah satu fokus yang harus diselesaikan. Menyediakan kotak sampah, memberikan instruksi agar membuang sampah ditempat yang telah di sediakan, membayar orang yang fokus mengurus sampah, ini semua bisa direncanakan di awal dan dilakukan pada saat pesta berlangsung. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjaga kebersihan, kerapian, dan yang jelas agar lalat gak berkeliaran yang kemudian mengganggu kenyamanan para tamu yang hadir di pesta tersebut.
Selain masalah sampah, saya melihat budaya gotong royong di Desa Srisawhan Lampung Tengah−utamanaya pesta ini−mulai memudar. Mungkin karena sudah masuk kategori desa setengah kota sehingga orang yang rewang bisa di hitung dengan jari. Berbeda dengan budaya rewang di desa tempat tinggal saya dimana orang-orang yang rewang bisa mencapai ratusan.
Di pesta itu saya hanya melihat orang yang memasak, cuci piring, dan orang yang bertugas membuat kopi. Mereka itu adalah orang-orang yang dibayar untuk menopang berlangsungnya pesta. Walaupun pasti ada keluarga, saudara yang membantu mempersiapkan lain-lain tapi jumlahnya tak sebanyak yang ada di desa saya.
Saya melihat pesta yang berlangsung sore itu sangat keteteran karena sedikitnya orang yang rewang. Berbeda dengan di desa saya tinggal, semua masih terkondisi karena banyaknya tenaga yang tersediia. Walaupun untuk urusan memasak sama, sama-sama membayar orang untuk membantu memasak.
Baca selengkapnya

Wednesday, November 22, 2017

Yang Saya Kangen dari Bapak (Bagian Satu)



Kali ini saya akan bercerita tentang masa kecil saya yang penuh dengan keceriaan sekaligus ujian. Hidup di desa dengan berbagai kekurangan membuat saya tidak merasa kurang sama sekali karena waktu kecil saya hanya memikirkan bermain, mengaji, sekolah atau membantu orang tua semampunya saja.
Jika seorang anak laki-laki selalu diidentikkan dekat dengan seorang mamak dan tidak pernah dekat dengan seorang bapak, maka saya akan membantah anggapan itu semua. Saya adalah orang yang menjalin hubungan emosional yang sama kuat antara bapak dan mamak. Sedari kecil saya sudah menjadi orang yang dekat dengan bapak, walaupun bapak sering merantau mobat-mabit mencari rezeki untuk kami anak-anaknya. Tapi ketika beliau pulang ke rumah, beliau selalu menyempatkan bercengkrama dengan kami walaupun dengan suasana apa adanya bapak tetap memperhatikan kami.
Saya memahami betul alasan kenapa bapak tidak banyak membersamai saya dan kami. Desakan ekonomi, alasan itulah yang menyebabkan bapak harus bekerja sebagai buruh pencabut singkong, tukang bangunan, atau merantau membuka lahan register yang tentu akan menghabiskan berbulan-bulan lamanya karena proses mambuka lahan, menanam dan mengurus tanaman di lahan perantauan sampai masa panen datang. Tapi terdakang bapak akan pulang untuk melihat keluarga sesekali sebelum masa panen tiba.
Momen yang menjadi kenangan terindah (ada banyak momen) dengan bapak salah satunya adalah saat saya merengek minta dikeramasi. Bersama dengan adik−Muhammad Alim−biasanya saya akan berebut siapa yang lebih dulu dikeramasi.  Keramas yang saya maksud bukan sekadar keramas biasa, ada sensasi yang sangat menyenangkan sehingga saya merasa kangen dan perlu menuangkannya dalam tulisan.  
Dalam posisi telanjang bulat saya akan dipangku oleh bapak, di pangkuan bapak itulah saya dalam posisi tiduran, di tambah ndangak dan kepala hampir menyentuk tanah. Posisi ini mirip dengan posisi kayang.
Setelah itu bapak akan membasahi rambut saya dengan air yang ada di bak yang telah dipersiapkan sebelumnya, setelah itu bapak akan membasuh rambut saya dengan sampo dan memutar-mutar tangannya sampai sampo rata dirambut saya. Momen itulah yang kadang saya rindukan, ketika saya merem-melek karena takut mata ini kemasukan busa sampo di rambut.
Sambil di elus-elus dengan penuh kasih sayang, bapak kemudian membasuh busa sampo yang tersisa di kepala dengan air, perlahan sampai bersih, sampai tak ada busa lagi. Ketika 'ritual' itu telah usai, saya merasa kegirangan luar biasa. Biasanya saya akan meneruskan dengan mandi sendiri jika adik saya sudah mengantre minta jatah untuk disampo. Ketika tak ada adik, biasanya saya sekalian dimandikan oleh bapak.
Saya masih ingat waktu itu sempat menggunakan sampo merang warna kuning dan warna hijau. Entah dimana produk itu sekarang, mungkin hilang bersama kalahnya persaingan bisnis dan bersama hilangnya sabun batangan yang dulu pernah juga saya gunakan di masa kecil.
Yang jelas, masa kecil bersama bapak tak pernah bisa dilupakan. Tunggu cerita berikutnya tentang momen-momen indah bersama bapak. Jika sempat menulis, saya akan menulis artikel dengan judul “Yang Saya Kangen dari Mamak” dan “Yang Saya Kangen dari Keluarga” sebagai bahan perenungan perjalanan hidup.

Penulis: Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Friday, November 17, 2017

Membuat Film Dam Raman

Suasana Editing Film Dam Raman
Jumat, 17 November 2017, pukul 01.43 dini hari, saya terbangun dari tidur−tapi bukan tidur panjang ya. Saya melihat Ajad Sudrajad, Dwi Nugroho, Tomi Nurrohman dan Elman Darmansyah masih terjaga, mereka sibuk mengerjakan film Dam Raman yang sedang dalam proses editing.
Film Dam Raman ini akan bercerita tentang perjalanan Dam Raman dari sekadar bendungan yang dulu penuh dengan cerita 'mistis' begal, tempat mesum, dan segudang citra buruk sampai kini menjadi tempat wisata warga yang damai, murah dan aman−itu harapannya.
Dulu, sekitar dua bulan lalu, tepatnya tanggal 9 September 2017, kami tim Cangkir Digital Creative (CDC) berkunjung ke Dam Raman untuk swafoto (baca: selfie), berburu foto dengan spot terbaik, kala itu Dam Raman belum ramai seperti sekarang. Hanya ada beberapa pemuda yang nyore, sederet pemancing di sebelah selatan Dam Raman yang asik menunggu kail mereka disantap ikan, dan hanya ada satu pedagang sore itu, dia adalah pedagang somai yang ketiban rejeki nomplok karena tim CDC ikut nimbrung dan nyomai bareng di Dam Raman.
Berkunjung ke Dam Raman 9 Seotember 2017
 Film ini bercerita tentang awal obrolan gerakan #ayokedamraman. Seperti air yang mengalir atau angin yang melambungkan layang-layang ke angkasa (analogi jurus cocokologi), kami segera saja membuat instagram, laman web, dan halaman facebook #ayokedamraman. Saya yang aslinya awam tentang website segera diminta kak Dharma Setyawan membuat laman web ayokedamraman.com. Tanpa berfikir panjang, saya segera membuatnya karena sebelumnya saya pernah membuat website waroengbatja.id dan mengelolanya sampai sekarang.
Untuk menyelesaikan laman ayokedamraman.com, saya dibantu oleh kolega di sekretariat Metrouniv.ac.id, Pak Muhammad Nasrudin. Beliau ini tak banyak bicara, tapi pengalamannya telah berbicara tentang kualitas dirinya. Selama tujuh tahun lebih beliau bekerja sebagai editor di salah satu penerbit buku di Jogjakarta, menjadi wartawan organisasi di bawah ormas islam terbesar di negeri ini−Nahdlatul Ulama, waktu itu juga masih di Jogjakarta. Intinya, tahap akhir pembuatan laman ayokedamraman.com diselesaikan oleh Pak Nasrudin yang sekarang menjadi pengajar di IAIN Metro.
Proses Pengambilan Gambar Film Dam Raman
Mula-mula laman ayokedamraman.com hanya berisi foto-foto kunjungan awal ke #ayokedamraman, kemudian tim CDC menginisiasi untuk membuat sayembara menulis tentang Dam Raman yang berhadiah kaos eksklusif nuwobalak.id. Memang lomba menulis ini adalah dedikasi pengelola laman web nuwobalak.id untuk mendukung kemajuan wisata warga #ayokedamraman, tema besar lomba ini adalah “dari Nuwobalak.id untuk Dam Raman”. Tomi Nurrohman lelaki imut berkacamata, yang merupakan pengelola nuwobalak.id segera saja membuat aturan main lomba tersebut, eksekusi cepat, bergerak dan terus berdetak memompa darah semangat ke seluruh tubuh.
Tentu Kak Dharma Setyawan yang menghabiskan masa kecil dengan mengintip orang pacaran, berenang hampir ke tengah Dam Raman, manjadi bagian dari film perjalanan Dam Raman ini. Bukan memuji, nyatanya beliau ini adalah orang yang menginisiasi dan mengajak kami anak muda di CDC dan anak muda di Desa Srisawahan (utamanya yang dekat Dam Raman) memulai langkah memajukan Dam Raman. "20 tahun lalu, saya mendengar bahwa Dam Raman akan di bangun wahana ini, fasilitas itu. Tetapi sampai saat ini pemerintah tak ada yang bergerak. Lalu kami mengajak anak muda dan warga untuk bergerak dengan tenaga sendiri untuk mengelola Dam Raman," ujarnya dalam beberapa kesempatan ketika berbincang dengan kolega.
Foto Bersama Uswah Khasanah
Kampanye #ayokedamraman tidak hanya dilakukan lewat laman web ayokedamraman.com dan instagram @ayokedamraman, kami melebarkan sayap, berkampanye dengan video pendek. Cewek-cewek cantik mahasiswi IAIN Metro menjadi model dalam kampanye tersebut. Alasan ini pasti beralasan−jangan bingung dengan pernyataan ini, karena jika saya yang menjadi model dalam video pendek itu, pasti penonton akan lari terbirit-birit dan enggan menonton. Kalaupun penonton kuat menonton video saya sampai habis, mereka akan muntah diakhir video karena mual melihat muka saya yang terlalu unyu-unyu.
Penanggungjawab pembuatan video pendek kampanye #ayokedamraman adalah Julianto Nugroho dan Faqih Fadul, mereka yang beberapa kali terlibat dengan perempuan cantik, mengarahkan gerakan dan gestur, membina ekspresi dan mimik muka serta mengatur apa saja yang harus diucapkan sang model kampanye. Perlu diingat, ini bukan kampenye politik atau kampanye partai politik. Ini adalah kampenye #ayokedamraman!
Proses Pengambilan Gambar Film Dam Raman
Selain diunggah di saluran mbah youtube Ayo ke Dam Raman, tentu Bang Muhammad Ridho yang lolos seleksi calon hakim akan mengunggah video pendek tersebut ke akun instagram @ayokedamraman. Mahasiswa Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Metro ini sangat lihai dalam memilih, memilah foto-foto, sampai mengunggah ulang (baca: repost) foto yang ciamik. Beliau menjadi salah satu teladan berinstagram dalam lingkaran jamaah Cangkir Digital Creative. Karena kecintaan terhadap negeri kelahirannya, Kecamatan Kasui Kabupaten Waykanan, Bang Edoy membuat akun instagram @kasui_ku, jangan lupa diikuti ya gaes!!!
Ketua umum Unit  Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSEI Filantropi, Mustika Edi Santoso juga akan ditampilkan dalam film Dam Raman. Bersama dengan ketum sebelumnya Dwi Nugroho, Mustika membuat desain kaos #ayokedamraman sekaligus dodolan kaosnya. Sedangkan ketum Dwi Nugroho mengurusi patungan musala Dam Raman yang terkumpul lebih dari Rp. 22 juta rupiah. Angka itu belum termasuk batu bata, keramik, pasir dan sumbangan material lain. Soal pengelolaan dana patungan musala Dam Raman, saya berikan dua jempol untuk Dwi Nugroho.
Muhammad Anan Al-Farizi sebagai ketua komunitas #ayokedamraman yang sekaligus penyandang gelar jomblo akut bercerita tentang awal mula dia diajak mengurus Dam Raman oleh kak Dharma Setyawan. Sebagai seorang jomblo akut, Anan langsung mengamini dan mengiyakan ajakan untuk menyulap Dam Raman agar menjadi tempat wisata kekinian dan yang pasti  murah meriah. Akhirnya, dia bersama pemuda Srisawahan yang tergabung dalam komunitas #ayokedamraman terus bergeliat, berinovasi, memunculkan ide baru untuk Dam Raman. “Pohon Kenangan, Mati karena Terbakar Api Cemburu”, “Jalan Mulu, Jadian Kagak” adalah beberapa spot swafoto (baca: selfie) yang merupakan ungkapan hati sang kepala suku, Anan Al-Farizi yang terlalu lama sendiri. Hehehe
Beberapa pimpinan IAIN Metro juga akan tampil dalam film Dam Raman. Pak Suhairi Yusuf sebagai Wakil Rektor 1, Bu Ida Umami sebagai Wakil Rektor 3, dan Pak Yudianto yang merupakan Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup, akan menghiasi layar laptop atau telpon pintar jika nantinya anda menonton film ini. Memang, pegiat awal gerakan #ayokedamraman rata-rata adalah dosen dan mahasiswa IAIN Metro.
Sementara Bude Sugiyem dan Bude Wasinem akan berkisah tentang dampak Dam Raman terhadap perekonomian mereka. Saya tidak akan bercerita banyal soal ini, takut dikatakan pamer, sombong atau takabur.
Mungkin sementara cukup, nantikan filmnya di saluran youtube Ayo ke Dam Raman.  Salam warga berdaya!
Penulis: Lukman Hakim
  
Baca selengkapnya