Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Friday, October 12, 2018

Guru Honorer



"Kenapa kau tak pernah sarapan, Dul?" tanya Japri kepada Abdul. 
"Kau belum tahu?"
"Tahu apa, Dul?"
"Aku ini mahasiswa honorer. Makan cukup sekali dalam sehari," jawab Abdul tak beranjak dari kasur lusuh hello kitty. 
"Mahasiswa honorer?"
"Tahu kau kalau mahasiswa honorer mirip, bahkan nyaris sama dengan guru honorer. Mahasiswa hononer makan sekali saja dalam satu hari. Sedangkan guru honorer terima upah tiga bulan sekali. Sama-sama ada hitungan tiga dalam satu." 
"Bedalah, Dul." Bantah Japri sambil menghabiskan mie instan ke mulutnya.
"Apa bedanya, Pri?"
"Guru honorer itu mengajar murid dengan dedikasi. Mereka bekerja, Dul. Sedangkan kau!  Mahasiswa honorer yang tak tahu kerja. Tidur saja kau, Dul."
"Ah, kau pun sama, Pri. Kerjanya cuma tidur."
Baca selengkapnya

Sunday, July 22, 2018

Mbah Ngadisah dan Genjer

Mbah Ngadisah Disela Memanen Genjer 

Minggu (22 Juli 2018) selepas salat asar saya pergi ke sawah. Melihat tanaman padi yang sudah berumur 46 hari setelah masa tanam. 

Sore itu, saya menghampiri Mbah Ngadisah yang sedang panen genjer. "Sudah lama Mbah nandur genjer?" sapa saya kepadanya. 
"Sudah puluhan tahun, Pak".

Beberapa orang memang memanggil saya "pak" karena status saya sebagai pendamping sosial program keluarga harapan (PKH) di Kampung Rantau Jaya Makmur dan Rantau Jaya Baru. Dan Mbah Ngadisah adalah salah seorang keluarga penerima manfaat (KPM) atau peserta PKH yang ada di Dusun 3 Kampung Rantau Jaya Makmur.

Saya tak berhasil mendapatkan informasi tentang berapa lama Mbah Ngadisah sudah membudidayakan genjer karena beliau sendiri sudah lupa. Obrolan kami pun mengalir begitu saja. 

Satu unting (baca: ikat) genjer biasanya diambil oleh pengecer dengan harga Rp. 1.000.  Menurut pengalaman Mbah Disah, tumbuhan genjer bisa dipanen setiap hari. 

Akhir-akhir ini, Mbah Ngadisah hanya mampu memanen maksimal 50 ikat genjer karena hanya sendiri, suaminya sibuk mengurus sawah dan anak gadisnya telah menikah muda. Sebelum anak gadisnya menikah,  Mbah Ngadisah bisa panen sampai 100 unting genjer setiap hari. 

Budidaya genjer tak serumit membudidayakan tanaman/sayuran lain. Setelah masa tanam, petani hanya perlu memberikan pupuk kandang (tletong) yang dicampur dengan urea untuk merangsang pertumbuhan genjer agar lebih cepat panen. 

Perlakukan pertanian semi organik ini juga untuk mempertahankan kesuburan tanah. Jika tanah yang menjadi media tanam genjer hanya diasupi pupuk kimia maka tanah akan gersang dan kurang subur. Jika tanah hanya diberi kotoran sapi maka pertumbuhan genjer akan lambat tapi perlakuan ini bagus untuk kondisi tanah. 

Karena desakan kebutuhan sehari-hari, ingin panen lebih cepat, akhirnya petani (Mbah Ngadisah) memakai cara semi organik.

Dalam waktu tiga minggu sampai satu bulan setelah masa tanam,  genjer sudah bisa dipanen. Mbah Ngadisah tak pernah kesulitan memasarkan genjer yang telah ia panen karena ada pengecer yang akan mengambil semua panen Mbah Ngadisah. 

Sekitar 100 meter dari sawah genjer Mbah Ngadisah terdapat tanaman genjer yang lebih luas dan terlihat lebih terurus. Menurut keterangan Mbah Ngadisah, sawah itu bisa menghasilkan 500 unting genjer setiap harinya pada masa produktif. Artinya petani genjer mendapatkan Rp. 500 ribu setiap hari. 

Saya yakin masih ada harapan hidup di kampung. Ada dana desa, ada sawah-ladang, ada potensi yang bisa dikembangkan di kampung. Budidaya genjer adalah salah satu contoh bagimana orang kampung bisa bertahan hidup.

Tabik! 

Rantau Jaya Makmur, 22 Juli 2018
Lukman Hakim




Baca selengkapnya

Thursday, June 14, 2018

Dayung Tak Langsung Bersambut

Alumni SMA N 1 Rumbia 2011
Ada yang berbeda dari buka puasa bersama yang kami jalani di ramadan tahun 2018 ini. Biasanya buka puasa bersama hanya digelar untuk teman-teman satu kelas saja.  Tapi kali ini kami bersama alumni SMA Negeri 1 Rumbia tahun 2011 bersepakat untuk menggelar buka puasa bersama. Dengan retorika panjang, debat tipis-tipis, dan alasan ngalor-ngidul, akhirnya buka puasa bersama kami sepakati pada Rabu (13/6/2018) di Jendela Kuliner Kecamatan Rumbia. 

Tak lama setelah kesepakatan tersebut, saya berfikir bagaimana kalau alumni angkatan 2011 membuat acara amal (bakti sosial)  untuk berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan--terutama menjelang idul fitri. Tak lama, gagasan ini  langsung disambut antusias oleh teman-teman dan saya segera meminta tolong pengurus instagram @serbarumbia membuat desain sekaligus mempublikasikannya.

Karena kesibukan dan lain hal, pamflet yang saya minta baru selesai pada hari Selasa (12/6/2018), tepat satu hari sebelum pelaksanaan buka bersama. Dan sesuai kesepakatan di grup whatapps, hasil donasi yang terkumpul akan dibagikan pada tanggal Kamis, (14/6/2018).

Sampai Rabu siang (13/6/2018) total donasi yang terkumpul sebanyak Rp. 400.000. Dan nilai ini belum bertambah sampai waktu buka bersama tiba. 

Saya hampir menyerah, tidak akan berbicara soal donasi atau kegiatan sosial yang sebelumnya dibahas digrup karena kondisi yang ramai dan tidak memungkinkan. Tapi teman-teman mendesak untuk membahas soal gerakan sosial yang akan dilaksanakan menjelang idul fitri.

Saya membuka pembicaraan dengan menawarkan pembagian sembako kepada masyarakat di sekitar Kecamatan Rumbia, Putra Rumbia dan Bumi Nabung. Ini adalah bantuan yang bersifat konsumtif untuk warga yang membutuhkan (kategori lanjut usia, fikir miskin dan disabilitas). Tanpa panjang cerita teman-teman mengamini apa yang saya sampaikan.
Tahun 2018 fokus pembagian paket sembako di Kecamatan Rumbia.

Kemudian saya menawarkan kegiatan sosial berupa beasiswa kambing kepada anak yatim yang ingin bersekolah tapi kesulitan biaya. Program ini sama dengan program beasiswa kambingku yang pernah saya gulirkan kepada anak didik Perpustakaan Waroeng Batja satu tahun lalu. 


Diskusi menjadi hidup. Teman-teman sangat antusias dengan program beasiswa ini karena beasiswa bersifat produktif. Volta menjadi yang paling aktif dalam berdiskusi.
Inti dari beasiswa kambingku adalah donatur memberikan kambing untuk dipelihara oleh peserta didik. Setelah beranak, indukan kambing akan diberikan kepada peserta didik berikutnya dan anak kambing tadi menjadi hak milik si pemelihara (anak didik). Kambing akan terus digulirkan sampai tidak produktif, kemudian kambing diganti dengan indukan baru, begitu seterusnya. 

Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya kami bersepakat untuk patungan dan menyepakati teknis pelaksanaan agenda terdekat--bagi sembako. "Nggak usah panjang lebar, sekarang fokus apa yang mau dikerjakan. Panjang lebar kalau nggak jalan malah malu," ujar Widi Irawan yang merupakan mantan ketua lembaga dakwah kampus se Provinsi Lampung.

Singkatnya, terkumpul donasi sebanyak Rp. 1.417.000 dan dibelanjakan 11 paket sembako dengan total Rp. 539.000 dan sisa uang donasi Rp. 878.000 yang akan digulirkan untuk beasiswa kambingku. "Aku merasa buka bersama yang paling bermanfaat ya tahun ini," celetuk Cica, panggilan akrab Tri. 

Saya kemudian berfikir ternyata niat baik tak langsung bisa dilakukan waktu itu juga. Buktinya setelah satu tahun, program beasiswa kambingku baru akan dilaksanakan satu tahun kemudian setelah idul fitri 2018.

Saya yakin dayung tak harus langsung bersambut. Ternyata bersaambutnya dayung membutuhkan proses, perjuangan dan konsistensi memikirkan, tentu diiringi dengan kegiatan baik lain. 

Tabik! 










Baca selengkapnya

Friday, November 24, 2017

Desa di Ujung Rindu

Suatu senja di Desa. Yeni Ipma

Ada rasa yang tertahan
Menggebu mengusik hati
Apa?
Ah, mungkinkah aku merindu

Serpih kenangan bersama
Teman kecilku

Atau ingatkah kamu
Kita berlagak jadi pemburu
Ikan di rawa-rawa takut berlarian
Mereka yang masuk bubu
Sudah jadi nasib
Pasti masuk perut bersama bumbu

Kepik kita tangkapi
Sekadar mengagumi indah
Suara, warna atau bentuknya
Sesudahnya kita lepas mereka
Karena semua berhak bebas merdeka

Kita punya senjata mematikan
Sebuah pistol laras panjang
Terbuat dari pelapah pisang
Tenanglah tenang
Itu tak akan membunuh atau mematikanmu
Seperti laras panjang sungguhan yang disalahgunakan

Aku memang merindu
Rindu masa kecil di desaku
Kepadamu desa di ujung rindu


Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Wednesday, October 4, 2017

Bahasa Cinta

Ilustrasi Bahasa Cinta. Sumber/http://www.jayaberkata.com

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Bahasa yang bisa ku tangkap dengan panca indera
Kulihat dengan mata
Kudengar dengan telinga

Jelaskanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti tetangga di desaku yang berbicara dengan tetangga lainnya
Berbicara semua dengan apa adanya
Tanpa curiga, dendam atau dusta

Ungkapkanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti ilalang di desaku yang memberi guna
Menjadi atap rumah,  dia melindungi yang ada dibawahnya
Sebagai pakan sapi, dia memberi kehidupan sesama

Uraikanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti beduk di desaku ketika salat tiba
Ketika di tabuh dengan harmoninya
Jamaah berbondong ke sana untuk mengabdi kepada Sang Maha Pencipta

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti ayam di desaku yang berkokok di pagi buta
Pertanda dunia harus disambut dengan suka cita
Dengan kerja dan berkarya

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Karena aku tak bisa menerka, terlebih menerjemahkannya

Lukman Hakim
Rabu, 4 Oktober 2017
Baca selengkapnya

Sunday, October 1, 2017

Ayah

Ayah. Sumber www.ayah.co.uk









Aku ingin sepertimu dengan pundak kuat
Memikul beban berat tanpa keluh kesah
Menjalani hari-hari
Meski banyak masalah menyelimuti

Ayah...
Aku ingin sepertimu yang selalu tegap
Meski sebenarnya ragamu lemah
Kau tetap saja berdiri tegak
Tanpa keluh, gegap juga ratap

Ayah....
Aku ingin sepertimu yang kekar
Menertawakan hidup dengan kelakar
Mesti kadang perutumu lapar
Kau mengajariku tentang sabar

Ayah.....
Aku ingin sepertimu dengan mata tajam
Belajar dari siapapun supaya paham
Bukan menjadi orang yang berlaku kejam
Memakan sesama manusia dengan menghujam

Ayah...

Metro, 29 September 2017
Baca selengkapnya

Friday, September 29, 2017

Nasib Petani

Ilustrasi Petani. Sumber www.edunews.id

Petani...
Tanpa tanah garapan
Seperti nelayan tanpa lautan
Layaknya guru tanpa sekolahan
Atau dokter tanpa gedung pengobatan

Petani.....
Sering menelan harapan kenyamanan
Dan jaminan  kesejahteraan
Tapi angan tak sejalan kenyataan
Tertipu mulut manis pengumbar bualan

Petani...
Nasibmu dulu dan kini
Tak ada pembeda yang berarti
Sebagai pilar penting bangsa ini
Sering terlonta kesana sini

Petani....
Ingin tanah moyangmu  diakui negara
Kau dianggap melawan dan meronta
Dituduh membangkang penguasa
Persekusi jadi perlakuan biasa

Petani...
Waktu tanam tiba
Bibit, pupuk melejit
Waktu panen tiba
Harga anjlok kau pun menjerit
Baca selengkapnya

Thursday, September 28, 2017

Menulis

Ilustrasi Menulis. Sumber: kompasiana.com




Menulis itu melukis, ibaratnya
Melukis peristiwa dengan kata
Merangkai kata menjadi makna
Membawa makna bersikap wibawa

Menulis itu berekspresi
Ekspresi jiwa dari relung hati
Hati yang berkomunikasi
Dengan pikir yang bersih suci

Menulis itu khayal
Berkhayal dengan akal
Menelusur dari ujung ke pangkal
Berkhayal yang mendedah bebal

Menulis itu mengabadi
Peristiwa dulu diketahui kini
Sejarah lampau bisa dipelajari
Menulis itu proses awet abadi

Menulis itu candu, harusnya
Tak sebentar pun kita meninggalkannya
Kamu menulis maka kamu ada
Ada dalam rasa, karsa dan karya

Metro, 28 September 2017
Baca selengkapnya

Takut PKI

Gambar Partai Komunias Indonesia, Sumber: wikimedia.org
Apakah kalian takut PKI?
Mereka bangkit lagi
Padahal mereka sudah lama mati
Setengah abad lebih, kini

Kenapa kalian benci PKI?
Sampai ke urat nadi
Benci tanpa mengimbangi
Benci butalah kalian, kini

Isu PKI
Dipakai Oligarki untuk menunggang Demokrasi
Jadilah Democrazy
Demokrasi delusi, demokrasi ilusi

Berlaku adil pada PKI
Bukti manusia berakal budi
Menimbang dengan hati nurani
Adillah sejak dulu dan kini

Sejarah PKI
Adalah sejarah negeri
PKI turut membangun negeri
Nusantara dulu, Indonesia kini 

Metro, 28 September 2017
Baca selengkapnya

Saturday, November 12, 2016

Palu Arit Phobia

Perkembangan media sosial (medos) saat ini menjadikan orang-orang bebas membuat pernyataan, menulis argumentasi, menunggah gambar atau meme di dinding fesbuk, twitter, instagram atau media sosial lain. Yang jelas dengan kebebasan ini, seharusnya pengguna media sosial bijak dan cerdas dalam memanfaatnya. Walaupun di dunia maya, etika berkomunikasi harus diperhatikan, tidak menebar kebencian, menyebarkan fitnah, atau membagikan berita hoax. Intinya tetap menjadi konsumen media sosial yang tahu batas dan etika.

Penyebaran kabar meresahkan menjadi viral baru-baru ini, yaitu soal uang rupiah yang memilki logo palu arit. Saya dibuat terbelalak, dengan cepat kabar ini tersebar. kemudian saya cek di instagram, fesbuk,  dan twitter, ternyata memang sudah banyak meme atau gambar yang telah beredar soal logo palu arit yang terdapat pada uang pecahan 100 ribu keluaran tahun 2014.

Kebiasaan buruk yang selalu berulang, membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya, saya fikir ini menjadi budaya kurang bagus dari kebanyakan pengguna media sosial. Bukanlah tabayun (konfirmasi) kebenaran terhadap kabar/berita perlu dilakukan agar tidak menyebarkan berita bohong yang menyebabkan kebingungan publik atau masalah yang lebih besar dikemudian hari.

Ada semacam fobia terhadap lambang palu arit yang merupakan lambang partai komunis Indonesia (PKI). Ketakutan kebangkitan partai ini seolah menjadi momok menakutkan yang selalu mengintai dan bisa menerkam sewaktu-waktu layaknya monster. Saya fikir, orang-orang yang memilki ketakutan besar kepada partai yang pernah menduduki rangking 3 partai besar di negeri ini sedang terjangkit palu arit phobia. Fobia semacam ini menyebabkan ketakutan yang berlebihan, bahkan sering meminggirkan akal dan pikiran waras dalam berfikir objektif.

Logo yang dianggap sebagai lambang palu arit dalam mata uang 100 ribu tidak lebih dari logo yang terbentuk secara acak akibat pengamanan uang atau rectoverso. Rectoverso adalah teknik pencetakan uang secara khusus di mana pada posisi yang saling membelakangi terdapat ornamen yang terbentuk tidak beraturan.

Tetapi ketika uang diterawang maka akan memperlihatkan ornamen berlogo BI yang berarti Bank Indonesia. Rectoverso dianggap sebagai pengaman uang yang paling safety karena uang sulit untuk dipalsukan. Selain Indonesia, beberapa negara lain juga menggunakan rectoverso sebagai pengaman mata uang seperti Malaysia (ornamen berbentuk bunga), uang kertas euro (membentuk nilai nominal uang). Sudahlah, pemerintah sudah mengatur soal uang rupiah di dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang. Apakah sampean masih mau ngeyel?

Ketakutan terhadap partai komunis Indonesia juga diekspresikan dengan cara lain, misalnya dengan pelarangan peredaran buku. Masa orde baru menjadi contoh  bagaimana aksi pelarangan buku dilakukan secara sistematis oleh pemerintah. “Kebencian” terhadap partai berlambang palu arit  dilakukan dengan latar belakang argumen ideologis, keperluannya tidak lain untuk mempertanankan versi kebenaran politis. Pembunuhan massal terhadap mereka yang dituduh PKI dan pelarangan buku kiri gencar dilakukan.

Setelah masa Soeharto berlalu, Indonesia pernah mengalami masa kebebasan, termasuk dalam penulisan dan penerbitan. Karya-karya pemikiran apapun boleh beredar secara bebas termasuk karya-karya Karl Max. Tapi masa kebebasan itu hanya sesaat, kemudian kebebasan itu terenggut lagi oleh mereka yang mengidap palu arit fobia.

Dalam buku Fernando Baez Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, disinggung soal pelarangan buku di Indonesia. Pada 19 April 2001, sebuah organiasi yang menamakan diri Aliansi Anti Komunis melakukan sweeping  dan membakar semua buku-buku “kiri”. Buku Prof. Frans Magnis Suseno dengan Judul Pemikiran Karl Max: dari Sosialis Utopis ke Perselisihan Revisionisme juga dibakar. Sampean semua tahu senjata apa yang digunakan kelompok ini untuk membakar buku? Tidak lain adalah TAP MPRS NO XXV TAHUN 1966 yang menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang dan melarang penyebarluasan Maxisme-Leninisme.

Ketakutan ini berlanjut, 19 Juni 2007 ketika kejaksaan Tinggi Semarang diikuti oleh beberapa kejaksaan Tinggi di daerah lain mengancurkan ribuan buku SMP dan SMA yang mengacu kurikulum 2004. Buku-buku ini juga dianggap berbau kiri sehingga harus dimusnahkan. Buku yang dimusnahkan antara lain: Kronik Sejarah, Manusia dalam Perkembanagn Zaman.

Dengan Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 19/A-JA/10/2007 maka aksi pelarangan dan pembakaran buku terus dilakukan. Buku-buku yang kemudian dilarang (lagi) antara lain: Dalih Pembunuhan Masal karya John Rossa, Suara Gereja Umat Penderitaan: Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Socrates Sofyan Yoman, Lekra Tak Membakar Buku karya Rhoma Dwi Aria Yulianti dan Muhidin M dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan karya Dharmawan, Mengungkap Misteri Keraman Agama karya Syahruddin Ahmad. Selain itu, pada bulan September 2009 kelompok yang menamanakan diri Front Anti Komunis juga membakar buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah Karya Soemarsoso di Surabaya.

Tentu sampean semua masih inget di bulan Mei lalu, bertepatan pula dengan hari buku nasional. Inspeksi mendadak dilakukan aparat kepolisian, sweeping itu dilakukan guna “mengamankan” buku-buku kiri. Sangat mengesankan, atau lebih tepatnya menyedihkan, mengenaskan? Asal ada kata-kata komunis, PKI, 1965, atau sampulnya bergambar palu dan arit, langsung diberangus oleh aparat.

Jadi biarlah orang-orang itu takut dengan logo palu arit (maklum kurang baca). Tapi saya sampaikan bahwa saya menerima uang pecahan 100 ribu sampean-sampean yang katanya berlogo palu arit itu. Sungguh! Tidak perlu sungkan, langsung telfon nomer seluler saya dan saya pun akan menjemput uang merah merekah itu. Uang itu akan saya belikan buku-buku dan semoga tidak dicekal dan dibakar.

Satu pesan terakhir yang saya kutip dari twitter. “Selain palu arit di uang 100 ribu, perlu diwaspadai neo-komunisme di matematika. Ada arit-matika dan tunggu rumus baru palu-matika, waspadalah!
Baca selengkapnya

Friday, November 11, 2016

Redominasi dan 4 Permen


Sewaktu kecil dulu, disaat ingus masih sering membanjiri hidung membentuk angka sebelas. Saya bisa membeli 4 permen dengan uang 100 rupiah. Berarti 1 permen dihargai 25 perak saja. Tapi tahun berganti dan musim pun berubah, pergerakan perekonomian bangsa Indonesia dan dunia terus bergerak cepat dan dinamis. Uang Rp. 100 kini hanya digunakan sebagai penghilang masuk angin (kerokan), walaupun orang pintar katanya minum obat buatan pabrik merk A dan B. Tapi saya tetap berbangga diri dengan tradisi kerokan, juga untuk mengenang-ngenang masa kecil yang membeli 4 permen dengan nominal fulus 100 perak itu. Cukup menyenangkan bukan.

Waktu itu pak Harto masih berkuasa, reformasi belum juga membuncah hebat dengan aksi heroik mahasiswa yang menguasai gedung DPR . Saya masih ingat betul masa itu adalah orde baru, kenyataan itu ditandai dengan pemasangan umbul-umbul kuning berlogo beringin ketika akan ada hajat/acara dari pemerintah.

Umbul-umbul kuning pernah menjadi kebanggaan masyarakat di desa saya waktu itu. Yah, golkar kala itu masih menjadi partai kuat karena dikuasai pak Harto sebagai penguasa. Tapi saat itu saya cuma bisa domblong, wong menghilangkan ingus yang meler saja saya ndak sanggup, bagaimana mau tahu hiruk pikuk kekuasaan yang ada. Saya masih terlalu imut untuk bisa merekam dan paham jejak sejarah itu, disaat saya bergembira ria bisa membeli 4 permen dengan duit seratus perak.

Semakin lama uang seratus rupiah yang saya miliki nilai tukarnya semakin merosot. Dengan uang seratus perak dulu saya masih mempu membeli 4 permen, kemudian hanya 2 permen, kemudian 1 permen dan sekarang dengan uang seribu rupiah saya baru bisa memperoleh 4 permen. Loh, kok bisa? Artinya selama kurang lebih 20 tahun angka 0 (nol) dimata uang rupiah kita hilang. Kemana gerangan angka nol itu menggelinding? Kenapa nilai mata uang rupaiah semakin hari semakin kecil jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain, terlebih negara-negara maju di dunia.

Redominasi adalah kebijakan yang bisa mengembalikan kejayaan uang 100 rupiah setara dengan uang seribu rupiah, keduanya jika dibelanjakan akan mendapatkan 4 permen.

Redominasi adalah penyederhanaan jumlah digit pada pecahan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Pemerintah Indonesia pernah melakukan kebijakan ini pada 13 Desember 1965 dengan menerbitkan pecahan dengan desain baru Rp 1 dengan nilai atau daya beli setara dengan Rp 1.000. kebijakan redominasi mengacu pada Penetapan Presiden nomor 27 tahaun 1965. Tujuannya untuk mewujudkan kesatuan moneter bagi seluruh wilayah Indonesia.

Contoh negara yang sukses menerapkan redenominasi adalah Turki. Selain Turki, negara yang berhasil meredenominasi mata uangnya adalah Rumania, Polandia, dan Ukraina. Turki meredenominasi mata uang Lira secara bertahap selama 7 tahun yang dimulai sejak 2005. Setelah redenominasi, semua uang lama Turki (yang diberi kode TL) dikonversi menjadi Lira baru (dengan kode YTL, di mana Y bermakna “Yeni” atau baru). Kurs konversi adalah 1 YTL untuk 1.000.000 TL, atau menghilangkan enam angka nol (6 digit).

Pemerintah Brasil juga pernah menerapkan kebijakan redominasi. Rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah pada waktu menjadi pangkal masalah kegagalan redenominasi pada tahun 1986 mengingat negeri itu masih dilanda konflik politik dan instabilitas pemerintahan yang mengikis kepastian berusaha. Brasil akhirnya berhasil dalam menerapkan redenominasi pada tahun 1994. Maka kombinasi memangkas inflasi dan masuknya modal asing yang meningkatkan cadangan devisa merupakan faktor terpenting keberhasilan redenominasi di Brasil.

Kebijakan redominasi biasanya diambil karena nominal mata uang yang dianggap terlalu besar. Secara psikologis, masyarakat menganggap bahwa uang yang memilki nilai nominal besar mempunyai daya tukar yang rendah.  Indonesia dengan uang 100 ribu  sebagai nominal terbesar merupakan  negara urutan kedua yang mempunyai nominal mata uang terbesar di Asia Tenggara−sama dengan mata uang Kamboja Riel. Urutan mata uang terbesar di kawasan Asia tenggara adalah Vietnam dengan nominal Dong 500 ribu.

Lebih ekstrem adalah Zimbabwe yang pernah membuat uang dengan nominal terbesar di dunia, 100 triliun. Weladalah! Saya punya mimpi bisa nemu uang sebesar itu, tapi dalam kurs mata uang lain; bisa Indonesia, Eropa atau Amerika. Ame-calon isteri kalo nemu uang 100 triliun rupiah bisa langsung buat modal nikah bro. Jadi, nominal 100 triliun itu hanya ada di satu lembar uang. Dan perlu diketahui bahwa hiperinflasi 2008 yang menyebabkan uang 100 triliun dollar Zimbabwe hanya cukup untuk membayar ongkos bus selama sepekan, atau hanya memper oleh 3 telur saja. Apa! Sungguh terlaaaluuh.

Redeomonasi dengan pertimbangan stabilitas kondisi ekonomi harus diperhatikan, jangan sampai kebijakan redominasi malah membikin kesemerawutan ekonomi dan negara. Walaupun saya tidak bisa (lagi) membeli 4 permen dengan nominal 100 rupiah. Saya selalu berharap bahwa suatu hari nanti bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang terwakili oleh rupiah yang disegani dunia internasional. Saya berharap anak cucu saya kelak bisa menikmati permen-permen dengan damai, jangan sampai harga 4 permen dikalahkan oleh bayaran sekali masuk kakus umum.

Baca selengkapnya

Thursday, November 10, 2016

Kota(k) Pahlawan


Membincangkan hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November sesungguhnya tidak dapat lepas dari peristiwa 22 Oktober 1945 (Resolusi Jihad). Sebelum terjadi perang hebat di Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo pada 10 November 1945, sesungguhnya Resolusi Jihad yang diproklamirkan oleh para kiai Nahdathul Ulama merupakan inspirasi bagi Bung Tomo untuk melakukan perlawanan terhadap tentara sekutu.

Surabaya dan daerah di Jawa merupakan gudang kaum pesantren, ketika Resolusi Jihad Nahdhatul Ulama (NU) berkobar maka kaum pesantren adalah pasukan yang turut berjuang melawan pasukan Inggris. Musuh gentar jika telah mendengar pasukan berani mati. Walaupun sekutu memilki peralatan perang lengkap, akhirnya tentara Inggris harus kocar-kacir dengan pasukan berani mati kaum pesantren.

Jika Jepang memiliki pasukan berani mati Kamikaze, Filipina dengan pasukan berani mati Juramentado Suku Moro, Giansidui adalah pasukan berani mati Tiongkok yang dibentuk 1911, maka Indonesia memilki pasukan berani mati pada masa Resolusi Jihad sampai meletusnya peperangan 10 November 1945 di Surabaya.

Perjuangan arek-arek Suroboyo yang heroik kemudian membikin kota Surabaya disebut sebagai kota pahlawan. Sebutan yang lekat dengan kota Surabaya ini sebagai apresiasi dari perjuangan yang telah dilakukan. Perjuangan heroik bung Tomo, kaum pesantren, laskah, relawan, rakyat, dan beragam kalangan merupakan respon rakyat yang tersinggung dengan selebaran yang sebar oleh sekutu dengan perintah agar masyarakat Surabaya menyerahkan senjata yang dirampas dari tentara Jepang dan diserahkan kepada pasukan Inggris. Perintah ini menyulut kemarahan rakyat di Surabaya, juga menambah keberanian arek-arek Suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaan karena ancaman akan dibumi hanguskan oleh tentara sekutu.

“Selama Banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak aken kita mau menyerah kepada siapa pun juga. Allouakbar! Allohuakbar! Allohuakbar! Merdeka!”. Takbir bung Tomo masih menggetarkan hati, membuat merinding jika dengarkan dengan seksama. Lafadz takbir menjadi kekuatan dasyat bagi kaum pesantren dan segenap rakyat Surabaya untuk melawan penjajah kafir.

Masyarakat dimana pun di Indonesia berhak juga menyebut daerah masing-masing sebagai kota pahlawan. Tentu dengan tokoh pejuang sendiri di daerah masing-masing. Misalnya Lampung dengan Raden Intan, masyarakat Aceh dengan Cut Nyak Dien, tanah Minang dengan tokoh Bung Hatta dan Natsir, masyarakat Bali dengan Bung Besar. Semua rakyat boleh berbangga dengan daerah dan pahlawannya, tapi menjaga keutuhan bangsa dan negara dengan nilai-nilai kepahlawan juga langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengimplementasikan nilai-nilai luhur kepahlawanan dengan mempelajari sejarah bangsa sendiri dan tidak melupakannya adalah langkah yang bisa diambil. Tujuannya tidak lain agar wacana persatuan dalam keberagaman menjadi tali pengikat bangsa Indonesia. Kemudian berusaha mempelajari sejarah bangsa kita secara benar perlu dilakukan agar kita sebagai bangsa tidak meraba-raba sejarah bangsa sendiri. Melihat sejarah Indonesia secara terang, tidak ada simpang siur sejarah, pemelintiran sejarah, atau penghapusan jejak sejarah.

Karena sejatinya sejarah bisa diciptakan oleh penguasa sesuai dengan kehendak dan kepentingan. Pemelintiran sejarah era orde baru menjadi bukti yang kongret, bagaimana tangan besi pak Harto dengan se-enak udel membuat versi sejarahnya sendiri. Membuat skenario sejarah yang disusun rapi, kemudian tangan besi penguasa digunakan untuk memuluskan aksi pembuatan sejarah baru tersebut. Akhirnya sejarah yang dipelintir diamini juga oleh rakyat umum dan dalam waktu yang relatif lama.

Belum lagi bangsa Indonesia umumnya adalah bangsa yang tidak open dengan peninggalan sejarah macam artefak, prasasti, buku, dokumen, arsip dan peningalan sejarah lain. Nyelipnya dokumen tim pencari fakta (TPF) kasus kematian Cak Munir yang aktifis hak asasi manusia, sangat membuktikan keteledoran bangsa ini. Bagaiamana menjadi bangsa yang besar jika penghargaa terhadap rajutan sejarah yang termanifestasi dalam bukti sejarah raib dan tidak terurus.

Bung besar (Soekarno) mengatakan JASMERAH! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Pesan bung besar yang disampaikan dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 patut menjadi bahan perenungan bersama.

Bangsa Indonesia harus menyiapkan “kotak” pahlawan yang berisi tentang nilai dan sifat luhur pahwalan negeri ini. Kotak yang menjaga semangat para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, menjaga keutuhan NKRI dengan persatuan beragam latar belakang. Memang sangat normatif dan terkesan melankolis ajakan-ajakan nasionalisme semacam ini. Tapi bukankah pahlawan dari seluruh pelosok Indonesia mengajarkan hal demikian. Kita wajib melawan lupa atas segala sejarah bangsa kita, menolak pikun nilai-nilai luhur yang diajarkan para pahlawan, memelihara ingatan dan kewarasan dengan membaca, mempelajari dan mengamalkan sejarah bangsa sendiri, juga berkaca dan mengambil pelajaran dari jejak masa lampau.

Semoga kita bisa menjadi bangsa yang bermartabat dengan menghargai sejarah. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan menerima nilai-nilai baru yang lebik baik. Selamat hari pahlawan! 

Cek juga: http://nuwobalak.com/kotak-pahlawan/



Baca selengkapnya