Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Friday, October 12, 2018

Guru Honorer



"Kenapa kau tak pernah sarapan, Dul?" tanya Japri kepada Abdul. 
"Kau belum tahu?"
"Tahu apa, Dul?"
"Aku ini mahasiswa honorer. Makan cukup sekali dalam sehari," jawab Abdul tak beranjak dari kasur lusuh hello kitty. 
"Mahasiswa honorer?"
"Tahu kau kalau mahasiswa honorer mirip, bahkan nyaris sama dengan guru honorer. Mahasiswa hononer makan sekali saja dalam satu hari. Sedangkan guru honorer terima upah tiga bulan sekali. Sama-sama ada hitungan tiga dalam satu." 
"Bedalah, Dul." Bantah Japri sambil menghabiskan mie instan ke mulutnya.
"Apa bedanya, Pri?"
"Guru honorer itu mengajar murid dengan dedikasi. Mereka bekerja, Dul. Sedangkan kau!  Mahasiswa honorer yang tak tahu kerja. Tidur saja kau, Dul."
"Ah, kau pun sama, Pri. Kerjanya cuma tidur."
Baca selengkapnya

Sunday, July 22, 2018

Mbah Ngadisah dan Genjer

Mbah Ngadisah Disela Memanen Genjer 

Minggu (22 Juli 2018) selepas salat asar saya pergi ke sawah. Melihat tanaman padi yang sudah berumur 46 hari setelah masa tanam. 

Sore itu, saya menghampiri Mbah Ngadisah yang sedang panen genjer. "Sudah lama Mbah nandur genjer?" sapa saya kepadanya. 
"Sudah puluhan tahun, Pak".

Beberapa orang memang memanggil saya "pak" karena status saya sebagai pendamping sosial program keluarga harapan (PKH) di Kampung Rantau Jaya Makmur dan Rantau Jaya Baru. Dan Mbah Ngadisah adalah salah seorang keluarga penerima manfaat (KPM) atau peserta PKH yang ada di Dusun 3 Kampung Rantau Jaya Makmur.

Saya tak berhasil mendapatkan informasi tentang berapa lama Mbah Ngadisah sudah membudidayakan genjer karena beliau sendiri sudah lupa. Obrolan kami pun mengalir begitu saja. 

Satu unting (baca: ikat) genjer biasanya diambil oleh pengecer dengan harga Rp. 1.000.  Menurut pengalaman Mbah Disah, tumbuhan genjer bisa dipanen setiap hari. 

Akhir-akhir ini, Mbah Ngadisah hanya mampu memanen maksimal 50 ikat genjer karena hanya sendiri, suaminya sibuk mengurus sawah dan anak gadisnya telah menikah muda. Sebelum anak gadisnya menikah,  Mbah Ngadisah bisa panen sampai 100 unting genjer setiap hari. 

Budidaya genjer tak serumit membudidayakan tanaman/sayuran lain. Setelah masa tanam, petani hanya perlu memberikan pupuk kandang (tletong) yang dicampur dengan urea untuk merangsang pertumbuhan genjer agar lebih cepat panen. 

Perlakukan pertanian semi organik ini juga untuk mempertahankan kesuburan tanah. Jika tanah yang menjadi media tanam genjer hanya diasupi pupuk kimia maka tanah akan gersang dan kurang subur. Jika tanah hanya diberi kotoran sapi maka pertumbuhan genjer akan lambat tapi perlakuan ini bagus untuk kondisi tanah. 

Karena desakan kebutuhan sehari-hari, ingin panen lebih cepat, akhirnya petani (Mbah Ngadisah) memakai cara semi organik.

Dalam waktu tiga minggu sampai satu bulan setelah masa tanam,  genjer sudah bisa dipanen. Mbah Ngadisah tak pernah kesulitan memasarkan genjer yang telah ia panen karena ada pengecer yang akan mengambil semua panen Mbah Ngadisah. 

Sekitar 100 meter dari sawah genjer Mbah Ngadisah terdapat tanaman genjer yang lebih luas dan terlihat lebih terurus. Menurut keterangan Mbah Ngadisah, sawah itu bisa menghasilkan 500 unting genjer setiap harinya pada masa produktif. Artinya petani genjer mendapatkan Rp. 500 ribu setiap hari. 

Saya yakin masih ada harapan hidup di kampung. Ada dana desa, ada sawah-ladang, ada potensi yang bisa dikembangkan di kampung. Budidaya genjer adalah salah satu contoh bagimana orang kampung bisa bertahan hidup.

Tabik! 

Rantau Jaya Makmur, 22 Juli 2018
Lukman Hakim




Baca selengkapnya

Thursday, June 14, 2018

Dayung Tak Langsung Bersambut

Alumni SMA N 1 Rumbia 2011
Ada yang berbeda dari buka puasa bersama yang kami jalani di ramadan tahun 2018 ini. Biasanya buka puasa bersama hanya digelar untuk teman-teman satu kelas saja.  Tapi kali ini kami bersama alumni SMA Negeri 1 Rumbia tahun 2011 bersepakat untuk menggelar buka puasa bersama. Dengan retorika panjang, debat tipis-tipis, dan alasan ngalor-ngidul, akhirnya buka puasa bersama kami sepakati pada Rabu (13/6/2018) di Jendela Kuliner Kecamatan Rumbia. 

Tak lama setelah kesepakatan tersebut, saya berfikir bagaimana kalau alumni angkatan 2011 membuat acara amal (bakti sosial)  untuk berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan--terutama menjelang idul fitri. Tak lama, gagasan ini  langsung disambut antusias oleh teman-teman dan saya segera meminta tolong pengurus instagram @serbarumbia membuat desain sekaligus mempublikasikannya.

Karena kesibukan dan lain hal, pamflet yang saya minta baru selesai pada hari Selasa (12/6/2018), tepat satu hari sebelum pelaksanaan buka bersama. Dan sesuai kesepakatan di grup whatapps, hasil donasi yang terkumpul akan dibagikan pada tanggal Kamis, (14/6/2018).

Sampai Rabu siang (13/6/2018) total donasi yang terkumpul sebanyak Rp. 400.000. Dan nilai ini belum bertambah sampai waktu buka bersama tiba. 

Saya hampir menyerah, tidak akan berbicara soal donasi atau kegiatan sosial yang sebelumnya dibahas digrup karena kondisi yang ramai dan tidak memungkinkan. Tapi teman-teman mendesak untuk membahas soal gerakan sosial yang akan dilaksanakan menjelang idul fitri.

Saya membuka pembicaraan dengan menawarkan pembagian sembako kepada masyarakat di sekitar Kecamatan Rumbia, Putra Rumbia dan Bumi Nabung. Ini adalah bantuan yang bersifat konsumtif untuk warga yang membutuhkan (kategori lanjut usia, fikir miskin dan disabilitas). Tanpa panjang cerita teman-teman mengamini apa yang saya sampaikan.
Tahun 2018 fokus pembagian paket sembako di Kecamatan Rumbia.

Kemudian saya menawarkan kegiatan sosial berupa beasiswa kambing kepada anak yatim yang ingin bersekolah tapi kesulitan biaya. Program ini sama dengan program beasiswa kambingku yang pernah saya gulirkan kepada anak didik Perpustakaan Waroeng Batja satu tahun lalu. 


Diskusi menjadi hidup. Teman-teman sangat antusias dengan program beasiswa ini karena beasiswa bersifat produktif. Volta menjadi yang paling aktif dalam berdiskusi.
Inti dari beasiswa kambingku adalah donatur memberikan kambing untuk dipelihara oleh peserta didik. Setelah beranak, indukan kambing akan diberikan kepada peserta didik berikutnya dan anak kambing tadi menjadi hak milik si pemelihara (anak didik). Kambing akan terus digulirkan sampai tidak produktif, kemudian kambing diganti dengan indukan baru, begitu seterusnya. 

Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya kami bersepakat untuk patungan dan menyepakati teknis pelaksanaan agenda terdekat--bagi sembako. "Nggak usah panjang lebar, sekarang fokus apa yang mau dikerjakan. Panjang lebar kalau nggak jalan malah malu," ujar Widi Irawan yang merupakan mantan ketua lembaga dakwah kampus se Provinsi Lampung.

Singkatnya, terkumpul donasi sebanyak Rp. 1.417.000 dan dibelanjakan 11 paket sembako dengan total Rp. 539.000 dan sisa uang donasi Rp. 878.000 yang akan digulirkan untuk beasiswa kambingku. "Aku merasa buka bersama yang paling bermanfaat ya tahun ini," celetuk Cica, panggilan akrab Tri. 

Saya kemudian berfikir ternyata niat baik tak langsung bisa dilakukan waktu itu juga. Buktinya setelah satu tahun, program beasiswa kambingku baru akan dilaksanakan satu tahun kemudian setelah idul fitri 2018.

Saya yakin dayung tak harus langsung bersambut. Ternyata bersaambutnya dayung membutuhkan proses, perjuangan dan konsistensi memikirkan, tentu diiringi dengan kegiatan baik lain. 

Tabik! 










Baca selengkapnya

Friday, November 24, 2017

Desa di Ujung Rindu

Suatu senja di Desa. Yeni Ipma

Ada rasa yang tertahan
Menggebu mengusik hati
Apa?
Ah, mungkinkah aku merindu

Serpih kenangan bersama
Teman kecilku

Atau ingatkah kamu
Kita berlagak jadi pemburu
Ikan di rawa-rawa takut berlarian
Mereka yang masuk bubu
Sudah jadi nasib
Pasti masuk perut bersama bumbu

Kepik kita tangkapi
Sekadar mengagumi indah
Suara, warna atau bentuknya
Sesudahnya kita lepas mereka
Karena semua berhak bebas merdeka

Kita punya senjata mematikan
Sebuah pistol laras panjang
Terbuat dari pelapah pisang
Tenanglah tenang
Itu tak akan membunuh atau mematikanmu
Seperti laras panjang sungguhan yang disalahgunakan

Aku memang merindu
Rindu masa kecil di desaku
Kepadamu desa di ujung rindu


Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Wednesday, October 4, 2017

Bahasa Cinta

Ilustrasi Bahasa Cinta. Sumber/http://www.jayaberkata.com

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Bahasa yang bisa ku tangkap dengan panca indera
Kulihat dengan mata
Kudengar dengan telinga

Jelaskanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti tetangga di desaku yang berbicara dengan tetangga lainnya
Berbicara semua dengan apa adanya
Tanpa curiga, dendam atau dusta

Ungkapkanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti ilalang di desaku yang memberi guna
Menjadi atap rumah,  dia melindungi yang ada dibawahnya
Sebagai pakan sapi, dia memberi kehidupan sesama

Uraikanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti beduk di desaku ketika salat tiba
Ketika di tabuh dengan harmoninya
Jamaah berbondong ke sana untuk mengabdi kepada Sang Maha Pencipta

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti ayam di desaku yang berkokok di pagi buta
Pertanda dunia harus disambut dengan suka cita
Dengan kerja dan berkarya

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Karena aku tak bisa menerka, terlebih menerjemahkannya

Lukman Hakim
Rabu, 4 Oktober 2017
Baca selengkapnya

Sunday, October 1, 2017

Ayah

Ayah. Sumber www.ayah.co.uk









Aku ingin sepertimu dengan pundak kuat
Memikul beban berat tanpa keluh kesah
Menjalani hari-hari
Meski banyak masalah menyelimuti

Ayah...
Aku ingin sepertimu yang selalu tegap
Meski sebenarnya ragamu lemah
Kau tetap saja berdiri tegak
Tanpa keluh, gegap juga ratap

Ayah....
Aku ingin sepertimu yang kekar
Menertawakan hidup dengan kelakar
Mesti kadang perutumu lapar
Kau mengajariku tentang sabar

Ayah.....
Aku ingin sepertimu dengan mata tajam
Belajar dari siapapun supaya paham
Bukan menjadi orang yang berlaku kejam
Memakan sesama manusia dengan menghujam

Ayah...

Metro, 29 September 2017
Baca selengkapnya

Friday, September 29, 2017

Nasib Petani

Ilustrasi Petani. Sumber www.edunews.id

Petani...
Tanpa tanah garapan
Seperti nelayan tanpa lautan
Layaknya guru tanpa sekolahan
Atau dokter tanpa gedung pengobatan

Petani.....
Sering menelan harapan kenyamanan
Dan jaminan  kesejahteraan
Tapi angan tak sejalan kenyataan
Tertipu mulut manis pengumbar bualan

Petani...
Nasibmu dulu dan kini
Tak ada pembeda yang berarti
Sebagai pilar penting bangsa ini
Sering terlonta kesana sini

Petani....
Ingin tanah moyangmu  diakui negara
Kau dianggap melawan dan meronta
Dituduh membangkang penguasa
Persekusi jadi perlakuan biasa

Petani...
Waktu tanam tiba
Bibit, pupuk melejit
Waktu panen tiba
Harga anjlok kau pun menjerit
Baca selengkapnya

Thursday, September 28, 2017

Menulis

Ilustrasi Menulis. Sumber: kompasiana.com




Menulis itu melukis, ibaratnya
Melukis peristiwa dengan kata
Merangkai kata menjadi makna
Membawa makna bersikap wibawa

Menulis itu berekspresi
Ekspresi jiwa dari relung hati
Hati yang berkomunikasi
Dengan pikir yang bersih suci

Menulis itu khayal
Berkhayal dengan akal
Menelusur dari ujung ke pangkal
Berkhayal yang mendedah bebal

Menulis itu mengabadi
Peristiwa dulu diketahui kini
Sejarah lampau bisa dipelajari
Menulis itu proses awet abadi

Menulis itu candu, harusnya
Tak sebentar pun kita meninggalkannya
Kamu menulis maka kamu ada
Ada dalam rasa, karsa dan karya

Metro, 28 September 2017
Baca selengkapnya