Sunday, October 8, 2017

Jalan-jalan: Getek Bamboo Waykanan (Hari Pertama)

Ngobrol Santai malm Hari di Rusunawa Waykanan
Siang ini (7/9) saya dan rombongan bergegas ke Waykanan untuk mengikuti even Gedung Batin Bamboo Rafting. Siapa rombongannya? Mereka adalah tim dari Smart Tour Lampung yang dinahkodai oleh Bang Imron dan Bang Tio yang dibantu tim, ada juga mbak Eni  yang merupakan wartawan harian kompas.com--salah satu portal berita besar di republik ini.

Saya dan kolega Feriansyah mewakili komunitas #ayokedamraman ikut juga di acara keren ini.
Saya bersama Feriansyah meluncur dari Kota Metro selepas salat dhuhur  sekira pukul 12.30 WIB. Setelah menitipkan sepeda motor di rumah kawan, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sampai di pinggir jalan besar (masih di Metro). Saya menuju ke Tegineneng dengan bus.

Sekitar jam 14.00 WIB, bang Imron yang bos Smart Tour itu menjemput saya dan kak Feriansyah di pojok tugu pertigaan Tegineneng. Saya bergabung di mobil luxio yang di belakang ada logo dan tulisan Smart Tour Lampung.

Perjalanan dari Tegineneng ke Waykanan kami tempuh sekitar empat setengah jam atau. Itu pun kita harus melewati kemacetan saat melintas di jalanan Gunung Sugih sampai di Bandarjaya. Kami pun sempat berhenti di salah satu stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Poncowati.

Kami tiba di masjid Amalbhakti Pancasila Waykanan sekitar pukul 18.30 WIB. Kami segera menjamak salat, dan lanjut menuju Rusunawa PNS Way Kanan, yang menurut keterangan Desva salah satu panitia, Rusunawa ini akan resmi diserahterimakan pada bulan November mendatang.

Di acara Festival Arung Jeram Getek--kalau boleh saya sebut demikian--ternyata kami tidak sendiri, ada peserta lain yang merupakan penyedia layanan jasa traveling dan beberapa komunitas yang bergelut di bidang wisata. Sebut saja @pendakilampung, @genpi_lampung, @smart_tour.travel, dan tentunya komunitas @wisata_waykanan, juga dari komunitas-komunitas lain
Rusunawa Blambangan Umpu Waykanan
Malam hari ini dilanjutkan dengan ramah tamah sekitar jam sembilan malam, sebelumnya sebagian dari mereka sudah ada yang memainkan musik di lantai bawah rusunawa.

Tak banyak obrolan dari acara ramah tamah itu, mereka dari @genpi_lampung memperkenalkan diri,  @pendakilampung atau @smart_tour.travel juga ikut memperkenalkan diri.

Saya sempat berbincang dengan salah satu pegiat komunitas @wisata_waykanan, Indra Rombeng nama akrabnya.

@arisindra.cr menceritakan tentang bagaimana awal mula Komunitas Wisata Way Kanan.
Komunitas yang ingin mengangkat wisata di daerah Way Kanan ini berdiri di awal tahun 2016. "Awalnya kami hanya lima orang," terang pria yang pernah menimba ilmu selama 6 tahun di Kota Metro.
Foto selepas acara ramah tamah dengan Komunitas Wisata_Waykanan di Acara Gedong Batin Bamboo Rafting

Indra Rombeng berkisah tentang bagaimana dirinya dan komunitas @wisata_waykanan mengajukan program ke pemerintah kabupaten Waykanan untuk memajukan wisata. Rombeng meyakini bahwa pemerintah akan berpengaruh pada pengelola wisata yang ada di Waykanan.

Misalnya ketika dia membandingkan wisata air terjun Putri Malu dan air terjun Gangsa. "Air terjun Putri Malu berada di tanah pemerintah jadi kami dari komunitas lebih mudah untuk mengelolanya. Sedangkan Air Terjun Gangsa di Kasui itu sebagian tanahnya milik warga. Warga kadang mempersulit komunitas untuk memperkenalkan wisata ini. Disitulah kami melibatkan pemerintah. Kami yakin warga di Air Terjun Gangsa akan lebih mendengarkan jika pemerintah setempat yang berbicara," terang Rombeng.

Indra juga mengatakan bahwa Festival Gedung Batin Bamboo Rafting tahun 2017 adalah yang kedua. "Dulu kami melibatkan anak mapala (mahasiswa pencinta alam) waktu Bamboo Rafting yang pertama. Tapi dampaknya kurang signifikan," katanya.

Sekarang komunitas @wisata_waykanan melibatkan komunitas yang bergelut juga di bidang pariwisata. "Upaya ini dilakukan agar promosi wisata di Waykanan juga semakin masif karena dibantu oleh teman-teman sepaham dan aktif di instagram. Karena ini jaman instagram," terang Indra.

Akhirnya obrolan kami sudahi. Indra mempersilahkan kami untuk beristirahat. Saya pun mengambil dua gelas kopi yang rencananya saya berikan kepada Dani dari tim Smart Tour. Apalah daya, dia malam itu tidak minum kopi.

Sambil berbincang dengan kolega, akhirnya saya malam ini menghabiskan dua gelas kopi. Sampai habis dua gelas kopi itu, tulisan ini pun belum usai

Barulah pukul 00.58 WIB tulisan ini rampung.

Salam jumpa besok pagi!

Baca selengkapnya

Wednesday, October 4, 2017

Bahasa Cinta

Ilustrasi Bahasa Cinta. Sumber/http://www.jayaberkata.com

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Bahasa yang bisa ku tangkap dengan panca indera
Kulihat dengan mata
Kudengar dengan telinga

Jelaskanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti tetangga di desaku yang berbicara dengan tetangga lainnya
Berbicara semua dengan apa adanya
Tanpa curiga, dendam atau dusta

Ungkapkanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti ilalang di desaku yang memberi guna
Menjadi atap rumah,  dia melindungi yang ada dibawahnya
Sebagai pakan sapi, dia memberi kehidupan sesama

Uraikanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti beduk di desaku ketika salat tiba
Ketika di tabuh dengan harmoninya
Jamaah berbondong ke sana untuk mengabdi kepada Sang Maha Pencipta

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Seperti ayam di desaku yang berkokok di pagi buta
Pertanda dunia harus disambut dengan suka cita
Dengan kerja dan berkarya

Katakanlah cinta dengan bahasa sederhana
Karena aku tak bisa menerka, terlebih menerjemahkannya

Lukman Hakim
Rabu, 4 Oktober 2017
Baca selengkapnya

Sunday, October 1, 2017

Ayah

Ayah. Sumber www.ayah.co.uk









Aku ingin sepertimu dengan pundak kuat
Memikul beban berat tanpa keluh kesah
Menjalani hari-hari
Meski banyak masalah menyelimuti

Ayah...
Aku ingin sepertimu yang selalu tegap
Meski sebenarnya ragamu lemah
Kau tetap saja berdiri tegak
Tanpa keluh, gegap juga ratap

Ayah....
Aku ingin sepertimu yang kekar
Menertawakan hidup dengan kelakar
Mesti kadang perutumu lapar
Kau mengajariku tentang sabar

Ayah.....
Aku ingin sepertimu dengan mata tajam
Belajar dari siapapun supaya paham
Bukan menjadi orang yang berlaku kejam
Memakan sesama manusia dengan menghujam

Ayah...

Metro, 29 September 2017
Baca selengkapnya

Saturday, September 30, 2017

Bolidi dan Lagu Genjer-genjer


Bolidi











Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih
"Hussss!! Ngapa nyetel lagu itu. Matikan!"
"Loh, apa yang salah sama lagu ini, mak?" tanya Bolidi heran.
Bolidi yang awalnya rebaran, kemudian bangun menegakkan badan.
"Itu lagu PKI tahu. Jangan disetel, kalau ada polisi atau tentara kamu nanti bisa ditangkap, Bol."
"Lagu itu kan cuma cerita genjer to mak. Genjer kan cuma tumbuhan yang kadang di sayur atau biasanya juga diambil buat pakan sapi. Perasaan nggak ada seram-seramnya." sergah Bolidi.
"Itu lagu P K I !!!" teriak emak Bolidi sembari menuju ke ruang tamu yang semula dari dapur.
"Kamu tahu kan Bol, lagu itu di putar pas Gerwani lagi nyileti jenderal-jenderal yang di culik. Gerwani kelihatan ganas. Apa kamu nggak pernah nonton film PKI?"
"Itu film propaganda Suharto aja lo, mak. Ojo percaya gitu aja."
"Lah gimana mamakmu ini nggak percaya. Wong film pemberontakan PKI itu di putar setiap tahun pas Pak Harto jadi presiden dulu. Semua warga di suruh nonton, pas lagi nonton di tunggu karo tentara meneh. Jadi mau nggak mau ya harus nonton."
"La makanya mamak itu harusnya nonton film-film yang lain. Film senyap atau film jagal. Itu yang buat pakde Joshua."
"Joshua yang nyanyi diobok-obok itu to, Bol?"
"Bukan mak. Joshua wong luar negeri. Pokoknya mamak kapan-kapan wajib nonton."
"Yang wajib itu ya golek mangan, le. Bisa makan aja kita sudah untung. Dan jangan lupa selalu bersyukur kepada Tuhan. Mamakmu nggak sempet nonton yang begituan. Wes ben, masalah begitu diurus orang-orang pinter yang sekolah. Sekarang ini yang penting dapur bisa ngebul, bisa nyekolahkan anak, bisa ngibadah kepada Gusti Allah, itu sudah bejo."
"La tapi nanti mamak anggep lagu genjer-genjer itu tetap lagu PKI, mak. Padahal kan bukan. Lagu genjer-genjer itu dulu cerita tentang penderitaan rakyat pas dijajah Jepang, paceklik dan akhirnya karena nggak ada bahan makanan, rakyat makan genjer, mak."
"Lah terus pas dulu acara PKI kok lagu itu sering dinyanyikan, Bol?"
"Wajar mak. Kan dulu warga banyak yang hafal sama lagu itu. Jadi lagu genjer-genjer di pakai buat kampanye, sebagai lagu wong cilik yang menggambarkan penderitaannya."
"Terus, apa mamakmu ini sekarang udah kayak bapakmu ya?"
"Mirip to mak? Ya jelas mirip. Kan kata orang kalau jodoh itu keliatan mirip-mirip, mak".
"Bukan itu Bol maksud mamak. Apa mamak udah mirip bapakmu yang suka ngerokok. Padahal bapakmu tahu kalau ngerokok itu nggak bagus buat kesehatan tapi masih saja dilakukan. Apa mamakmu ini istilahnya udah kecanduan film G30 S ya? Jadi yang ada cuma kengerian kalau mendengar nama PKI."
"Iya paleng mak. Propaganda ya penak aja to mak dilakukan, apalagi untuk mereka yang sedang berkuasa."
"Propaganda itu apa to, Bol? Dari tadi propaganda, propaganda, propaganda terus yang kamu omongin."
"Propaganda itu ya propaganda, mak," wehehe.
"Yawes sekarang nggak usah mikiri PKI atau propaganda, Bol. Lantainya kotor, buruan disapu! Jangan cuma mikir yang besar tapi nggak mau berbuat yang kecil, nyapu nggak mau."
Bolidi pun bergegas mengambil sapu. "Sekalian bantu masak nggak, mak?" teriak Bolidi di teras rumah.
Baca selengkapnya

Friday, September 29, 2017

Nasib Petani

Ilustrasi Petani. Sumber www.edunews.id

Petani...
Tanpa tanah garapan
Seperti nelayan tanpa lautan
Layaknya guru tanpa sekolahan
Atau dokter tanpa gedung pengobatan

Petani.....
Sering menelan harapan kenyamanan
Dan jaminan  kesejahteraan
Tapi angan tak sejalan kenyataan
Tertipu mulut manis pengumbar bualan

Petani...
Nasibmu dulu dan kini
Tak ada pembeda yang berarti
Sebagai pilar penting bangsa ini
Sering terlonta kesana sini

Petani....
Ingin tanah moyangmu  diakui negara
Kau dianggap melawan dan meronta
Dituduh membangkang penguasa
Persekusi jadi perlakuan biasa

Petani...
Waktu tanam tiba
Bibit, pupuk melejit
Waktu panen tiba
Harga anjlok kau pun menjerit
Baca selengkapnya

Thursday, September 28, 2017

Menulis

Ilustrasi Menulis. Sumber: kompasiana.com




Menulis itu melukis, ibaratnya
Melukis peristiwa dengan kata
Merangkai kata menjadi makna
Membawa makna bersikap wibawa

Menulis itu berekspresi
Ekspresi jiwa dari relung hati
Hati yang berkomunikasi
Dengan pikir yang bersih suci

Menulis itu khayal
Berkhayal dengan akal
Menelusur dari ujung ke pangkal
Berkhayal yang mendedah bebal

Menulis itu mengabadi
Peristiwa dulu diketahui kini
Sejarah lampau bisa dipelajari
Menulis itu proses awet abadi

Menulis itu candu, harusnya
Tak sebentar pun kita meninggalkannya
Kamu menulis maka kamu ada
Ada dalam rasa, karsa dan karya

Metro, 28 September 2017
Baca selengkapnya