Thursday, August 3, 2017

Bolidi, Ronda dan Mbok Rondo


"Sekarang ini Kang Darto lebih seneng ronda. Pasti gara-gara mbok rondo ya?".
"Waah, Mas Bolidi ini kok bisa bilang kayak gitu?".
"Buktinya Kang Darto abis isya udah nongkrong di cakruk. Tapi pas di lihat ke cakruk, rupanya udah melipir ke warung Mbok Rondo. Padahal orang-orang kan berangkat ronda jam sepuluh malem kang".
"Wehehehe", jawab Darto Nyengir.
"Memang mbok rondo Tini itu rondo baru kang Dar. Tapi masak iya, sampean yang bujang mau nyari mbok rondo?".
"Ora keno perawan, penting keno rondone Mas Bol. Saya ini sebenernya sudah lama suka sama Tini tapi kalah cepet ngelamarnya sama di Parmin mas".
"Sampean ini memang kesuwen jadi orang kang. Sampean ngganteng, ada kerjaan bagus, udah mapan kalo di pandang orang-orang tapi ya kelamaan. Kan begini jadinya, harusnya dapet Tini yang masih perawan, la ini ngejar Tini yang udah jadi mbok rondo".
"Saya ini udah kesengsem Mas Bolidi, jadi apapun keadaannya, saya tetep suka sama Tini yang statusnya udah janda sakalipun"
"Yasudah lah, cinta memang sudah membutakan kang Darto. Saya bisa bilang apa kalo udah begini".
"Untung pemerentah kita ini sekarang menggalakkan ronda Mas Bolidi. Jadi ada kesempatan dan alasan untuk ke warung mbok rondo mas Bol".
"Alhamdulillah, berarti ronda ini bisa mendekatkan sampean kepada mbok rondo. Semoga ronda ini juga memberi manfaat untuk banyak untuk masyarakat".
"Saya juga mikir begitu".
"La iya, semoga penggalakan kegiatan ronda warga bukan untuk mencari simpati warga ,untuk kepentingan politik, tapi memang untuk kegiatan warga, untuk kebaikan bersama".
"Saya tu mikir gini mas Bolidi, kalo desa, kampung, pekon atau suatu daerah sudah aman, apa ya perlu kita ini ronda? Bukankkah ronda itu hanya buat desa yang kurang aman. Desa kita kan terkenal aman”.
“Iya ndak masalah to Kang Darto kalo ronda itu untuk keamanan bersama, untuk kebaikan”.
“Mas Bolidi dengar kabar desa sebelah kan. Desa tetangga itu aman di malam hari pas orang-orang pada ronda. Eh, paginya ada yang kemalingan".
"Selama ikhtiar pemerentah baik, kita ikuti saja. Selama nggak di politik-politiki. Sampean kan juga bisa nyambi, ronda nyambi deketin mbok rondo. Sambil menyelam minum air to. Tapi awas sampean plempoken Kang Darto".
“Wehehe, iya Mas Bolidi. Sambil ronda semoga bisa dapet mbok rondo”
“Ngomong-ngomong ini orang-orang pada kemana ya Kang Darto? Udah lebih jam 11 malem kok belum pada dateng”.

Penulis: Lukman Hakim

Baca selengkapnya

Wednesday, August 2, 2017

Bolidi dan Nama-nama Jawa


"Mas Wok, saya ini heran, kenapa ya orang jawa jaman sekarang ndak bangga dengan nama jawa ya?", Tanya Bolidi suatu siang kepada Wibowo di warung kopi Kang Slamet.
"Iya Mas Bol, banyak nama yang aneh-aneh sekarang ini", timpal Wibowo.
"Kalo dari arti misalnya, nama jawa itu nggak kalah keren. Seperti nama mas Wibowo, artinya kan berwibawa. Kang Slamet artinya kedua orang tua Kang Slamet ini mengharapkan kang Slamet menjadi orang yang selamet. Bukan begitu Kang Slamet?".
"Sampean bener mas Bol, saya juga heran. Sekarang ini banyak orang jawa yang pake nama selain bahasa jawa. Ada yang bahasa arab, atau bahasa lain yang dianggap lebih populer dan lebih keren kalo di denger", ujar Kang Slamet dari dalam warung.
"La iya, nama mereka ada yang punya makna, tapi ada juga yang ngawur mas. Sak penak udele dewe. Wong nama itu kan sebenernya doa", tanggap Wibowo sambil menyeruput kopi hitam.
"Saya ini penarasan lo mas Bol, kalo nama sampean itu apa artinya mas?", tanya Kang Slamet.
"Saya sendiri juga bingung apa arti nama Bolidi. Kalo seumpama Bolidi berhubungan dengan silit, saya fikir itu tetap nama yang baik mas".
"Loh! Baik gimana mas?", tanya Kang Slamet dan Wibowo bersamaan.
"Bayangkan saja kalo manusia ndak punya bol, nggak punya silit, terus bagaimana dia bakal ngising? Walaupun sekadar silit tapi kita tidak bisa menyampingkan fungsinya. Ini saya anggap bahwa silit itu arti yang paling jelek, dan saya belum tau arti nama Bolidi sebenarnya. Tapi kita hidup sebagai apapun, punya jabatan atau tidak,  kita harus memilki manfaat untuk orang lain. Walaupun hidup yang kita jalani di pandang sebagain orang hina, dipandang sebelah mata".
"Saya sepakat sama Mas Bolidi soal hidup harus bermanfaat. Tapi soal nama, kita nggak boleh ngawur. Kira harus beri nama yang baik untuk anak-anak kita. Cahyono, Darmo, Abimanyu, Aditya, Budiono, Pangestu dan masih banyak lagi pilihan nama jawa yang keren".
"Kalo bukan kita siapa lagi kan? Masak kita nggak bangga dengan nama-nama jawa. Padahal kita ini orang jawa".
"Setuju Mas Bolidi, semua nama pasti memilki arti yang baik. Tapi kalo kita nggak pake nama jawa untuk anak cucu kita, bisa-bisa punah nama jawa itu. Kan sayang banget itu mas, sama saja perlahan membunuh budaya jawa", jawab Widodo sambil menyeruput kopinya lagi.
"Sampean tau cucunya Pak Paimin? Namanya Ralosu. Nama itu diambil dari nama orang tuanya Rahmat dan Suratmi", ujar Bolidi.
"Ada juga anaknya Vino itu mas, di kasih nama gabungan dari nama kedua orang tuanya. Kevin, gabungan dari dari nama Kemi dan Vino", sergah Kang Slamet.
"Tapi gimana kalo kita gabungkan saja nama jawa dengan nama yang katanya keren itu. Misal saja Michael Wibowo, Kevin Slamet, Agnes Sutini. Mas Bolidi bisa ganti nama Gonzales Bolidi, usul Wibowo.
"Alah! Kalo saya mau ganti nama, saya mau ganti Alexander Bolidi. Keren kan?", tanya Bolidi sambil terbahak.

Penulis: Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Tuesday, August 1, 2017

Bolidi dan Cerita Bu Haji


"Bu, Bu Haji, beli rokoknya dong", teriak Bolidi sambil clingak- clinguk ke dalam warung Bu Hajah Siti.
"Tunggu sebentar", teriak Bu Hajah Siti dari ruang belakang yang tak kalah kuat dengan Bolidi.
"Beli rokok apa?"
"Yang kretek itu bu", tunjuk Bolidi dari luar warung.
"Cie, Bu Siti sekarang sudah jadi bu Hajah lo. Hajah Mada ya bu?".
"Itu Gajah Mada mas Bol, bukan hajah".
"Wehehe", kekeh Bolidi sambil nyengir.
"Tau nggak mas Bol. Pas saya kemarin lagi haji di arab sana. Saya kan beli terasi tapi sama penjualnya nggak didoli".
"Kok bisa bu?",
"Kebacut tenan wong Arab ini", keluh Bu Siti.
"La saya lo mau belanja terasi. Sudah bilang baik-baik sama penjualnya tapi yang jual malah plonga-plongo".
"La Bu Haji gimana bilangnya sama penjual yang orang arab itu?", kejar Bolidi penasaran.
"Pak, kulo ajeng tumbas terasi? Saya udah bilang gitu mas Bol tapi malah haa-hee wae orangnya", jelas Bu Hajah Siti.
"Orangnya tu malah bingung dan saya ditinggal pergi".
"Oalah bu, bu. Sampean ini yang aneh. Di kira semua orang di dunia bisa bahasa jawa apa?. La sampean malah pake boso jowo alus".
"Saya kan lagi haji mas, saya kira kan saya harus sopan sama orang. Apalagi kalo udah pulang haji, udah jadi hajah, lebih berat mas kalo saya tetep jelek dalam bersikap. Pulang haji nggak ada bedanya"
"Tapi nggak pake bahasa jawa juga bu. Doh biyung", keluh Bolidi sembari menepuk jidat.
"Mas Bol, saya kan udah hajah. Boleh ngomongin bu hajah yang istrinya pak mantri itu nggak?"
"Emmm, apa bu hajah yang... Boleh sih bu", jawab Bolidi ragu.
"Saya nggak dosa kan?"
Belum sempat menjawab pertanyaan Bu Hajah Siti, ibu haji baru itu langsung melanjutkan ceritanya.
"Bu hajah istri pak mantri itu nasibnya sama dengan saya lo mas Bol"
"Sama kenapa bu?"
"Blio itu beli wortel di sana, pas haji, tapi nggak dilayani juga"
"Bu hajah itu pake bahasa jawa juga kayak ibu? Bahasa jowo alus juga?".
"Bukan mas Bol. Ibu hajah itu kan bilang mau beli wortel. Eh, malah di kasih air minum, akua itu mas"
"Ya Alloh, istrinya pak mantri pake bahasa Indonesia ya bu?"
"Iya mas Bol"
"Wajar bu, orang arab itu nggak tau bahasa Indonesia bu. Wajar di kasih wortel, mungkin dikira water sama orang arab itu bu. Water itu artinya banyu bu, air."
"Waaah, kita sebagai orang jawa harus mengenalkan bahasa jawa dan bahasa Indonesia ke seluruh dunia mas Bol"
"Caranya bu"
"Nggak tau mas, yang penting bahasa jawa harus mendunia. Biar kita nggak bingung kalo keliling dunia"

"Ngomongin apa to bu hajah, mas Bol, kok seru banget?", suara Yu Tinem memecahkan obrolan Bolidi dan Bu Hajah Siti.
"Ini Yu Tinem, lagi ngobrolin bu Hajah Siti. Cerita pas di arab sana, pas sama orang arab", jawab Bolidi.
"Saya sudah diceritain sama bu Hajah Siti kemarin mas Bol. Orang arab itu memang nggak sopan".
"Sopannya gimana bu kalo orang arab?".
"Nggak tau mas Bol. Tapi setidaknya kan jawab lo. Malah cuek bebek gitu".

"Lah, itu mas Bolidi kok beli rokok?", tanya Yu Tinem sambil menunjuk tangan Bolidi yang memegang rokok kretek.
"Anu Yu, saya mau membantu petani mbako Yu. Biar laris dagangan mbakonya".
"Apa ya nggak kalah sama pabrik-pabrik rokok yang besar itu mas Bol?".
"Yang penting niatnya mbantu Yu".
"Oh iya, saya kok baru inget kalo mas Bolidi nggak ngerokok ya Yu Tinem", sahut bu Hajah Siti.
"Terus mau di kasih siapa mas rokoknya?", tanya Yu Tinem.
"Mau saya kasih buat yang mau bu, yu", sambil berlalu Bolidi meninggalkan Yu Tinem dan Bu Hajah Siti.

Penulis : Lukman Hakim
Baca selengkapnya

Wednesday, June 28, 2017

Bolidi dan Kakus


Selepas subuh Bolidi jalan-jalan kecil di sekitaran kampungnya. Ia dikagetkan oleh sosok Paimin yang keluar dari semak-semak.
"Hayo ngapain sampean Min?", ujar Bolidi yang terlihat kaget.
"Baru ngising kang Bol", timpal Paimin cengar-cengir.
"Lah, sampean tetep nggak punya kakus ta?"
"Nggak punya kang"
"Waduh, sampean belum tau program pemerentah soal Stop Buang Besar Sembarangan kui?"
"Saya ini bukannya nggak tau itu kang, tapi saya sebagai manusia harus berinteraksi dengan alam, Kang"
"Maksudnya?", kejar Bolidi keheranan.
"Loh, bukankah harus ada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan"
"Terus, apa hubungannya dengan ngising ndak di kakus?"
"Masak kang Bol nggak paham. Jadi begini kang. Karena alam telah memberi kita banyak, maka saya juga wajib memberikan ising saya kepada alam agar unsur haranya kembali ke tanah yang saya isingi"
" Wah, sampean ki edan Min"
"Kang Bol ini kok ngedan-ngedane saya. Wong tai sapi, tai ayam, tai kambing kita beli lo untuk pupuk. Masak tai sendiri tidak dimanfaatkan? Bukankah tai kita lebih subur to kang?"
"Bener juga kamu Min", batin Bolidi.
"Oleh sebab itu, saya ngising di kebon kang Bol"
"Sampai kapan sampean ngising di kebon Min?
"Hari ini dan seterusnya kang. Bukan saya mbandel sama pemerintah kang, tapi saya sayang lingkungan"
"Waduh"
"Waduh kenapa kang Bol? Dari pada saya ngising di kakus cemplung. Pas ujan kan tainya nyiprat ke bokong kang Bol"
Bolidi dan Paimin terus berjalan beriringan.
"Eh, ini kok bau tai ya Min?
"Saya belum cebok kang Bol", jawab Paimin sambil nyengir lagi.
"Jancuk sampean Min".

Penulis: uman al-hakim
Baca selengkapnya

Monday, June 5, 2017

Bersama Lawan Persekusi

Fenomena persekusi akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak pihak karena persekusi merupakan perbuatan yang melanggar hak dan hukum. Sebut saja beberapa waktu lalu Dokter Fiera Lovita di Solok, Sumatera Barat, mendapatkan teror dari orang yang tak dikenal di kediamannya. Bahkan tidak hanya dirinya, keluarganya pun menjadi incaran tindakan persekusi sehingga kepolisian harus turun tangan memberi rasa aman kepada Dokter Lovita dan keluarganya.
Lalu, apakah persekusi itu? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap sesorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Artinya pelaku persekusi mengabaikan nilai kemanusian karena telah menganggu, membuat tidak nyaman, mengancam keamanan seseorang atau kelompok orang. 
Lebih menyedihkan lagi adalah persekusi yang menimpa pemuda berumur 15 tahun berinisial PMA di Cipiang Muara, Jakarta Timur pada Minggu, 28 Mei 2017 yang videonya menyebar di  platform media sosial facebook. Kejadian ini berdekatan dengan tanggal 1 Juni yang merupakan hari lahir pancasila. Lalu, apakah pihak-pihak yang melakukan tindakan persekusi bisa dianggap sebagai warga Indonesia yang pancasilais? Penulis anggap ini bisa menjadi momen renungan bersama menafsirkan kembali makna pancasila sebagai dasar Negara kita.
Pertanyaanya, apa yang menyebabkan kedua korban, Lovita dan PMA mengalami intimidasi, tekanan, bahkan perlakukan represif yang dilakukan oleh pihak yang merasa tersinggung atau dirugikan. Tidak lain adalah unggahan status mereka di media sosial yang dianggap menyinggung salah satu pihak atau kelompok. Kemajuan teknologi memang seperti dua sisi mata uang yang memiliki dampak positif dan negatif sekaligus. Tetapi sebagai generasi mileneal kita harus lebih cerdas dalam menggunakan media sosial dalam keseharian. Bukannya membawa keuntungan, buntut apes kadang sering dialami oleh pengguna media sosial yang kurang bijaksana.
Menjadi pengguna cerdas dalam bermedia sosial sudah harus dilakukan sejak sekarang. Tidak menjadi orang yang suka menyebar berita bohong (hoax), menghindari menjadi ‘agen’ penyebar ujaran kebencian dan menghindari mengunggah konten yang dapat menyinggung pihak lain.
Bukankah bersikap santun di dunia maya juga menjadi bagian dari peresapan nilai-nilai pancasila kita. Selain itu, kita juga dibatasi oleh rambu-rambu untuk berperilaku di dunia maya atau di media sosial yaitu  UU ITE.
Jika dulu berlaku ungkapakan, ‘mulut mu harimau mu!’, maka di era media sosial mulut diwakili oleh tarian jari jemari kita, ‘jari mu harimau mu!’. Maka memilah dan memilih diksi yang tepat menjadi penting untuk semua pengguna media sosial di lini kehidupan maya mereka. Sering orang terlihat garang di media sosial tapi sangat penakut di kehidupan nyata atau sebaliknya. Maka piliahnnya adalah menjadi pengguna yang bijak dan cerdas dalam bermedia sosial.
Menurut data Asosiasi Penyenggara Jasa Internet Indonesia (APJII),  pengguna internet di Indonesia tahun 2016 mencapai angka 132, 7 juta user atau sekitar 51,4% dari total penduduk Indonesia. Dari angka tersebut, berdasarkan konten yang paling banyak dikunjungi, para pengguna internet sering mengunjungi toko online sebanyak 82,2 atau 62%. Konten media sosial yang sering dikunjungi adalah facebook sebanyak 71,6 juta pengguna atau 54% dan urutan kedua adalah instagram sebanyak 19,9 juta pengguna atau 15%.
Jika dilihat berdasarkan tingkat usia, rentan usia sebagai pengguna terbanyak 35-44 tahun sebesar 29,2%, sedangkan rentang usia 55 tahun eatas menjadi angka terkecil diangka 10%.
Melihat dana ini, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi anak-anak mereka saat menggunakan media sosial. Jikapun orang tua tidak bisa mengawasi dan mengontrol kegiatan anak di media sosial mereka, orang tua harus selektif melihat pergaulan anak di dunia nyata. Langkah preventif diperlukan dari banyak pihak untuk menekan hal negatif di media sosial.
Menurut data Southeast Asia Freedom of Ekspression Network (Safenet), setalah kasus penistaan agama Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), ada 59 orang yang menjadi korban aksi persekusi. Penulis fikir, tindakan persekusi ini merupakan ‘sisa’ dari hiruk pikuk kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta beberapa waktu lalu.  
Maraknya fenomena persekusi harus disikapi secara baik oleh banyak pihak. Jika seseorang dianggap bersalah maka serahkan kepada penegak hukum, tidak main hakim sendiri yang malah melanggar hukum. Seorang pancasilais adalah mereka yang menghargai proses hukum yang berlaku dengan catatan bahwa tidak ada cacat hukum atau manipulasi hukum.
Bukankah persekusi merupakan tindakan yang menghianati agama dan Negara karena melanggar tatanan yang telah dibuat oleh keduanya. Sehingga kita harus memposisikan persekusi sebagai musuh bersama yang pelakunya harus diproses berdasarkan hukum yang berlaku.
Kebebasan seseorang memang telah dijamin oleh Negara lewat Undang-undang dasar dan peraturan turunanya, tapi yang harus dipahami adalah setiap orang juga dibatasi oleh hak orang lain. Sehingga hak dan kewajiban harus dilaksankan dalam porsi yang sama sehingga harmoniasi di masyarakat dapat terbangun dengan baik. Tabik!  

Cek juga di web Waroeng Batja


Baca selengkapnya

Thursday, June 1, 2017

Ayo, 20 Juta Pertama!


Ada yang berbeda dengan salat tarawih malam ini (1/6) di Masjid Nurul Iman Iringmulyo, Kecamatan Metro Timur. Malam ke-7 ramadan, jamaah di masjid ini kedatangan tamu istimewa dari Palestina. Beliau adalah Abu Anas, saya lupa nama aslinya, tapi demikianlah penerjemahnya memperkenalkan Syekh dari palestina tersebut.
Kedatangan syekh tadi ke Indonesia seperti halnya tahun-tahun sebelumnya yaitu untuk meminta doa, bantuan moril atau dukungan materil untuk rakyat Palestina. Beberapa tahun terakhir saya ikut dalam pengajian para syekh yang mengisi pengajian di masjid-masjid di Kota Metro. Isi pengajiannya tidak jauh dari topic Masjid al-Aqsa, bahwa Masjid al-Aqsa adalah kiblat pertama umat islam dan termasuk dalam tiga masjid yang memilki keistimewaan, selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. 
Setiap tahun materi yang disampaikan sama, tentang Palestina dan Masjid al-Aqsa tetapi disampaikan oleh orang yang berbeda.
Yang menjadi catatan saya malam ini adalah bukan tentang syekh yang mengimami salat tarawih dan mengisi ceramah, bukan pula soal materi yang disampai tentang keadaan rakyat Palestina dan kondisi masjid Al-Aqsa. Tetapi tentang panitia yang menyelenggarakan acara tersebut yaitu Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).
Jamaah hampir satu jam mendengarkan ceramah tentang keadaan rakyat palestina. Dari cermarah itu, Syekh Abu Anas hanya menyampaikan tidak lebih dari setengah jam. Kemudian yang memegang kendali acara itu adalah penerjemah dari KNRP, panitia ini mengajak para jamaah bersedekah untuk rakyat palestina. Yang membikin saya tergelitik adalah, kesan “paksaan”  bersedekah yang dilakukan oleh panitia tersebut.
“Siapa yang ingin berinfak 20 juta?”. Begitu pertanyaan ini di ulang berkali-kali oleh penerjemah dengan semangat berapi-api. Sampai pada akhirnya orang ini menyerah karena tak ada satupun jamaah yang mengangkat tangan untuk bersedekah dengan nominal itu.
Walaupun sebelumya telah diceritakan tentang anak yang duduk di sekolah menengah pertama berani berkomitmen bersedekah 50 juta untuk rakyat Palestina. Angka 20 juta mungkin dianggap tinggi oleh para jamaah. Terlebih dengan jalan paksaan seperti itu. 
Sebenarnya ada salah satu jamaah yang mengangkat tangan, tetapi karena tidak terlalu tinggi angkatan tangannya sehingga tidak terlihat oleh si penerjemah. Lalu tawaran berkomitmen−dalam bahasa penerjemah−20 juta berlalu. Si jamaah sebenarnya berada tepat di sebelah kiri saya, tepat di kanan penerjemah.
Selanjutnya, dengan nada yang sama, yang masih saja bergelora, penerjemah tadi menurunkan angka sedekahnya. Sekarang turun 50 persen dari tawaran pertama ke angka 10 juta. “Ayo yang mau bersedekah 10 juta angkat tangannya. 
Setelah diulang beberapa kali, tawaran komitmen 10 juta kepada jamaah, akhirnya ada seorang jamaah yang ada di depan yang mengangkat tangan. Disusul oleh seorang ibu yang ada di belakang. Kedua jamaah ini dipersilahkan ke depan untuk diberi cindramata berupa sal dan gambar masjid Aqsa yang dibingkai rapi.
“Silahkan yang mau mengisi formulir komitmen, ini bukan hutang dan tidak akan ditagih ketika mati. Saya sudah katakan hal ini kepada jamaah yang pernah bertanya”, ujarnya si penerjemah. 
“Silahkan isi, boleh 100 juta, 50 juta, 20 juta, 10 juta atau berapa nominal yang anda mau.  Dan membayarnya terserah, boleh dicicil, boleh cash”, lanjutnya tanpa memberi kesempatan jamaah untuk sekadar bertanya.
Ini adalah salah satu pernyataan yang menggelitik nalar saya. Jamaah diminta mengisi u formulir komitmen yang disediakan panitia dengan nilai berapa pun, dan dapat membayar kapanpun. Dan dikatakan ini tidak termasuk dalam hutang, janji atau nazar.  
Menurut saya ketika sesorang sudah berucap sesuatu, terlebih menuliskannya dalam pernyataan, itu sudah termasuk dalam kategori janji. Dan bahwasanya kewajiban yang memilki janji adalah memenuhinya. Terlebih janji ini berkenaan dengan pemberian materi/sejumlah uang maka janji itu wajib ditunaikan. Menjadi kewajiban ahli waris jika sampai pada waktu yang ditentukan di pemilik janji sudah meninggal dan belum bisa memenuhinya.
Bukankah panitia KNRP bisa melakukan penghimpunan dana yang lebih elegan. Tetap dengan sosialisasi tapi terkesan tidak memaksa seperti yang dilakukan malam ini.  Memberikan nomor handphone KNRP agar para jamaah bisa bertanya soal Palestina dan terkait penghimpunan dana dari KNRP. Memberikan nomor rekening bank kepada para jamaah agar ketika ada yang berniat bersedekah langsung bisa di transfer via bank. 
Saya melihat salah satu jamaah yang bersedekah 10 juta rupiah terlihat enggan ketika di suruh berdiri untuk diberikan kenang-kenangan. Saya mengira bahwa bapak ini tidak ingin terlihat pamer, maka saya tidak setuju dengan penghimpunan sedekah dengan model “tembak langsung” yang dilakukan oleh KNRP.
Tapi dibalik ketidaksetujuan saya itu, ada hal yang saya setuju yaitu soal bacaan surat setelah al-fatihah oleh Syekh Abu Anas. Apa itu? Blio tidak terlalu panjang dalam membaca surat-surat al-Qur’an. Blio tau bahwa tidak semua jamaah adalah orang yang suka dengan bacaan panjang, tidak semua jamaah adalah anak-anak muda yang kuat berdiri berlama-lama.
Itu, menurut saya sangat pengertian, dan sangat keren. Wallahu a’lam.
Lukman Hakim
Pegiat Waroeng Batja
Metro, 1 Juni 2017 pukul 22:40 WIB

Artikel ini bisa di cek juga di waroeng batja
Baca selengkapnya