Thursday, January 15, 2015

Menanam Tanpa Paksa

Oleh: Lukman Hakim
(Aktifis Komunitas Hijau, Bergiat di Majelis Kamisan Cangkir)
Terbit di Koran Harian Lampung Post 8 Januari 2015

Selain kepadatan, kota selalu akrab dengan masalah polusi udara dan sampah. Warga kota mengalami tingkat kesulitan untuk menikmati udara yang bersih, sekaligus mengalami kerumitan dalam membuang sampah, akibatnya warga kota memiliki resiko untuk mengalami frustasi lebih besar daripada warga desa. Warga kota yang sangat individualistik, kadang tak berpikir panjang dan seringkali membuang sampah secara sembarangan, akhirnya ketika musim hujan tiba, banjir menjadi sangat sulit diatasi.
Setiap kita memiliki tanggungjawab sosial untuk mendiskusikan dan mencarikan jalan keluar setiap persoalan tersebut, dan disinilah peran tanggungjawab sosial tulisan ini hendak dihadirkan, sebagai gagasan sederhana yang bisa diacu dan dibumikan, merancang kota hijau dalam bentuk kesadaran kolektif warga kota untuk mulai menanam tanpa paksaan. Mengolah sampah organik menjadi pupuk, dan sampah non organik untuk didaur ulang.
Jika dulu tanam paksa dikenal sebagai sebuah sistem dari pemerintah Hindia Belanda yang mewajibkan para penduduk menyediakan lahan untuk ditanami tanaman komoditas ekspor. Tanam paksa yang dikenal dengan sebutan Cultuurstelsel  diterapkan oleh gubernur jenderal Johannes Van den Bosch pada tahun 1830 yang tidak berpihak kepada rakyat, rakyat jadi buruh yang tak dibayar, maka konsep tanam tanpa paksa adalah inisiatif warga sendiri, dari, oleh dan untuk kebaikan warga sendiri.
Baca selengkapnya

Thursday, January 1, 2015

Kejutan Tahun Baru



Metro, 01 Januari 2015
13:33 WIB
Hiruk pikuk menyambut tahun baru sangat terasa pada tadi malam. Malam berselimut gerimis tidak menyurutkan antusias masyarakat kota Metro untuk berpartisipasi dalam penyambutan pergantian tahun. Masyarakat berbondong-bondong menuju taman kota dan lapangan samber untuk sekedar berkumpul dan menyalakan petasan secara berjamaah.
Langit Metro dihujani gemerlap warna-warni petasan, letupan yang saling bersahutan membuat riyuh suasana. Membakar uang dan memuja gaya hidup hedonis, membuat masyarakat lupa bahwa dibelahan lain bumi Indonesia sedang ada yang dilanda kesedihan.
Permasalahan lumpur lapindo yang belum usai, disusul dengan bencana longsor yang melanda Desa Banjar Negara, banjir yang menggenangi beberapa daerah di Indonesia, dan tranding topic hari ini soal  kecelakan pesawat AirAsia..
Momen tahun baru seharusnya diisi dengan evaluasi terkait kerja-kerja yang telah dilakuakan setahun silam. Memberi penilaian objektif terhadap kerja yang telah dilaksanakan sehingga memunculkan resolusi untuk perbaikan dimasa mendatang.
Malam tahun juga sangat tepat untuk merenungi keadaan Indonesia hari ini. Bagaimana kita seharusnya merasa sakit karena saudara-saudara kita ada yang sedang tertimpa musibah. Jangan malah bersuka cita disaat yang lain merasa dilanda musibah, menjadi bijaksana dalam mengekpresikan suka cita itu penting untuk menjaga kepedulian kedan tenggang rasa.

Begini Cara Kami
Bersama dengan komunitas Diskusi Kamisan Cangkir, malam terakhir tahun 2014 diisi dengan acara “nyate bareng” di Rumah Bersama. Suasana kekeluargaan yang dibangun di komunitas ini membuat betah untuk berlama-lama berbincang dan berfikir mengenai gagasan dan garapan hari ini, masa depan, dan tidak melupakan masa lalu.
Tidak untuk menunjukkan hidup hedonis, sebaliknya ingin mengimplementasikan hidup sederhana yang cinta kerja. Mengubah kebiasaan mainstream, tidak hanya berbicara tetapi mencoba mentransformasikan dalam bentuk kerja nyata.
Orang-orang yang ada didalam komunitas ini mampu menginspirasi dengan keunikan karakter masing-masing. Bagaimana egaliter diimplementasikan oleh anggota komunitas, tetapi tidak mengurangi rasa saling menghargai. Tidak menjadi beda dengan ketinggian gelar dan ilmu, pangkat yang melekat, atau perbedaan usia. Kebenaran yang selalu dijunjung tinggi, siapapun orangnya, jika yang diucapkan dan dilakukan benar maka akan dihargai.
Rumah Bersama telah mengajari bagaimana untuk bekerja keras dan menikmati proses. Jika menginginkan hasil yang manis maka proses yang harus ditempuh pun wajib terasa pahit. Menikmati proses dengan keikhlasan dan ketelatenan akan membawa kepada hasil yang memuaskan. Dan proses itu tak akan pernah berhenti sampai maut yang menghentikannya. Alhamdulilah buah proses dan kado tahun baru, tulisan dimuat dimedia nasional. Jangan berhenti berproses!



    
Baca selengkapnya

Mendefinisikan Ulang Kebhinekaan


Lukman Hakim
Tulisan Terbit di rubrik opini laman www.satuharapan.com pada 1 januari 2015
Pancasila adalah rumah bersama tempat tinggal semua kebaikan, semua keragaman dan identitas, suku, budaya dan agama.
Akhir-akhir ini kita disuguhi banyaknya berita tentang konflik yang melanda negeri ini, mulai dari konflik antar institusi negara seperti TNI-Polri karena persoalan sepele, konflik intitusi politik seperti partai karena berebut kekuasaan, hingga konflik antar warga sipil. Konflik yang secara terus menerus berulang dan terjadi di hampir semua kelompok dan institusi secara kuat menjadi penanda negeri ini sedang di posisi rawan konflik.
Ada apa dengan bangsa kita yang telah berusia 69 tahun ini? Kenapa begitu mudah tersulut hanya karena masalah kecil, padahal konflik memberi dampak kerugian yang tak sedikit. Pada umumnya, beberapa konflik sosial yang melibatkan warga yang terjadi seperti di Sampit, Sambas, Kalbar, dan sejumlah daerah termasuk Lampung pasca-reformasi bernuansa primordial dan etnis, namun konflik antar lembaga negara seperti yang sering terjadi di tubuh TNI-Polri atau internal partai politik menurut Baladas Goshal (2004) bisa karena akibat demokratisasi, terlepas sisi positif yang dibawanya.
Pada titik inilah, penulis merasa perlu untuk kembali membincang konflik dan mendefiniskan ulang kebhinekaan kita yang hari ini seakan telah terkoyak.Sikap saling menghargai perbedaan yang dulu pernah tumbuh subur di nurani bangsa Indonesia sekarang sudah mulai memudar. Diganti dengan keakuan (ego) yang lebih dominan menguasai sikap dan perilaku masyarakat, klaim kebenaran dan kepatutan sebagai milik kelompok dan the other (kelompok lain) sebagai tidak benar dan tidak patut sehingga harus dinegasikan. Melupakan sejarah bahwa bangsa ini dibangun dari konfigurasi pembentuk bangsa dan negara yang majemuk.
Baca selengkapnya

Tuesday, December 30, 2014

Miras, Seru atau Saru?



Oleh Lukman Hakim (Pegiat Diskusi Majelis Kamisan Cangkir)
Terbit di Pojoksamber.com pada 30 Desember 2014

Kasus minuman keras (miras) oplosan yang banyak merenggut nyawa, rupanya tak memberi efek jera bagi para pelakunya. Awal Desember lalu, kita dikejutkan dengan puluhan korban tewas akibat miras oplosan di Sumedang dan Garut, disusul lagi dengan beberapa korban di Probolinggi dan Yogyakarta.
Miras berhasil menghipnotis para generasi muda kita untuk menikmati hidup dengan cara yang keliru, mereka rata-rata berpikir dan yakin bisa melupakan segala masalah hidup yang menjejali mereka dengan menenggak minuman haram tersebut. Beban hidup, mulai dari susahnya mencari pekerjaan hingga tak jelasnya orientasi hidup, membuat mereka menafsir sendiri kegagahan dan keperkasaan dengan cara instan.
Budaya individualistik dan hedonis, disamping faktor lain seperti frustasi massal tentang kesusahan hidup, menjadikan mereka berpikir pendek untuk bisa menikmati hidup, miras ditenggak, dinikmati merasa nyaman dan fly menurut mereka lebih baik daripada tidak pernah bisa menikmati hidup sama sekali, miras adalah pelarian dari hiruk pikuk lalu lintas kehidupan yang semakin padat dan menyiksa.
Baca selengkapnya

Keindahan Mata Air Madrim

Bandar Agung, 25 Desember 2014
16:34 WIB


Kejernihan airnya mampu menyejukkan wajah dan badan di saat udara yang begitu panas siang ini. Sumber air madrim atau kali madrim adalah sumber air yang berada di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribawono Lampung Timur.
Asal usul nama kali madrim menurut pengakuan penduduk sekitar bahwa didekat sumber air itu pernah hidup seorang tokoh masyarakat yang bernama mbah Madrim. Kemudian secara turun temurun nama itu melegitimasi nama sumber air tersebut.
Sumber air yang tak pernah kering walaupun saat musim kemarau ini mampu mengairi sawah yang ada dibawahnya dengan luas sekitar dua hektar.
Selain sebagai sumber irigasi, mata air madrim juga digunakan sebagai tempat wisata oleh masyarakat sekitar.
Keindahan kali madrim seharusnya bisa mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Sebagai aset yang harus dijaga keasrianya agar masyarakat luas dapat mengetahui ada tempat wisata di desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribawono Lampung Timur.
Karena ternyata tidak hanya kali madrim, ada kali lain yang berpotensi sebagai tempat wisata alternatif yaitu kali bandar dan kali silo yang jika dikelola dengan baik bisa medatangkan rejeki untuk masyarakat dan pemerintah.








Baca selengkapnya

Bertemu Mbah

Bandar Agung, 25 Desember 2014
08:30 WIB

Seorang sepuh tengah duduk dikursi roda, iya itu mbah ku yang selama ini aku juga tak mengenalnya. Belum lama aku tau soal kakak dari kakek, bapaknya ibuku.
Hampir saja aku kehilangan silsilah keluarga dari mbah-bapaknya ibu jika aku tak segera mencari dan menyambung kembali tali persaudaraan yang hampir saja udar.
Bersyukur bisa menyambung tali persaudaraan yang hampir lepas dan berharap bisa melanjutkan persaudaraan ini dengan generasi berikutnya.
Mbah Musiran adalah saudara kandung dari mbah Sumiran. Masih susah pula otak ini hanya sekedar mengingat nama Musiran.
Seorang suami dari mbah Sri yang telah berusia senja, 70 tahun. Terus berjuang ditengah kesakitan jasadnya, tidak lupa pula untuk selalu taat beribadah.


Baca selengkapnya